Sebaris Nyanyian dari Ibu
WRITTEN BY kucumcucum
♥Thursday, December 20, 2012 [
0 comments ]
Ibuku malang ibuku tersayang…
Tatap matamu Satu,
seakan kasih sebening kaca.
Masa-masa duka,
Kau bangkitkan gaya jua
Dalam mengarungI gelombang samudra hidup ini.
Nasib tiada pernah kau ratapi
Kau terima dengan tabah
Kehidupan ini kau anggap bagai menggarap sawah
Dengan keringat sendiri kau tanamkan rasa harga diri.
Nyanyian itu tak akan pernah terlupakan olehku. Nyanyian yang
mengingatkan aku akan ibu yang telah melahirkan aku dan membesarkanku
hingga aku menjadi seperti ini. Aku sangat bersyukur karena aku
mempunyai seorang ibu yang berhati mulia, yang setiap malam selalu
mengantar aku tidur sambil menyanyikan lagu itu, menasehati aku,
memberikan aku pujian dan membuat aku bangga padanya karena ketabahan
hatinya. Meskipun sering kali aku membuatnya kecewa tapi ibu tak pernah
sedikitpun membesarkanya. Dia tahu bagaimana yang seharusnya dia lakukan
untuk memberiku semangat ketika aku merasa terpuruk, patah hati dan
hilang kendali. Ibu adalah teman yang selalu mengisi hariku dan tempat
berlabuh dimana semua kekesalan ku terobati. Ibu, aku rindu
padamu...kapan kau akan menyanyikan lagu itu lagi? Kapan kau akan
menjaga aku ketika aku tengah sekarat, dikala tak mampu untuk menyuap
makanan. Kaulah penolongku ibu. Aku rindu semua itu. Biar sedewasa
apupun diriku, jika berada di dekapmu aku merasa diriku seperti sepuluh
tahun yang lalu. Merengek, manja dan selalu ceroboh.
Akhir-akhir ini, Aku tahu kau merasa terkekang dengan sikap ayah,
merasa dihianati, merasa tak dihargai. Aku tahu kau sangat prustasi.
Sering kali dalam keluarga kita terjadi percecokan dan semua kesalahan
selalu dilimpahkan padamu. Kau menerimanya dengan lapang meskipun kau
tahu sendiri kalau itu bukan kesalahmu. Ayah tak tahu apa-apa tentang
kasih sayang yang kau berikan kepada kami. Dia hanya bisa menuntut dan
menuntut agar kita menuruti semua kemauannya dan jika tidak, kitalah
yang dianggap tak tahu berterima kasih atas nafkahnya. Kau tak pernah
menyadarinya ibu, sehabis kau dan ayah bertengkar, aku tak pernah absen
mengintipmu yang sedang menangis termangut-mangut dan kau sesekali
menyalahkan dirimu sendiri. Ketika aku mulai terhanyut oleh tangisanmu,
tanpa aku menyadari air mataku ikut menetes. Setitik, dua titik hingga
mataku sembab.
Tak berakhir di situ. Semua orang mengejekmu, menghinamu karena kau
dianggap tak berhasil dalam mengurus keluarga, karena kau disebut-sebut
sebagai wanita jalang dan materialistis. Padahal mereka tidak tahu
apa-apa. Mereka hanya pandai membuat masalah baru tanpa mengintropeksi
diri mereka terlebih dahulu. Aku jadi geram mendengar kata-kata mereka.
Kalau saja mereka bukan keluarga dekat kita, ingin rasanya aku
menghantam dan menjahit mulut mereka agar berhenti membuat gosip yang
tak sedap mengenaimu. Bukanya aku tak berani membelamu, hanya saja
mereka terlalu tua, dan bukankah ibu pernah menasehatiku, ”kalau ada
orang yang berbuat nggak baik terhadap kita, kita harus diamkan karena
karma masih berlaku di muka bumi ini Ka.” dan aku sangat, sangat
menghargai nasehatmu itu.
Itu bukan sekali, dua kali kau mendapat perlakuan tidak baik dari
mereka. Mereka memang nggak punya perasaan Bu, dan yang terakhir kau di
fitnah berselingkuh hingga terjadi percecokan yang paling hebat dari
yang sebelumnya. Sebegitu tak tahannya dirimu atas ketidakadilan
tersebut, kau terpaksa pergi meninggalkan aku dan Deddy. Kau pergi tepat
pada saat aku terjaga oleh mimpi meskipun tanpa nyanyian itu. Kau pergi
pada tanggal 17 januari 2010, pukul empat ketika fajar belum tampak
dari wajah bumi. Kau pergi dengan membawa luka serta kesedihanmu.
Padahal tujuh hari sebelumnya, kita baru saja melangsungkan pesta ulang
tahunmu yang ke-38.
Aku bingung mencarimu ibu. Aku mencoba untuk menghubungi kerabat dekat,
kerabat jauh bahkan temanmu. Bertanya dimana kini kau berada, tapi
mereka sama sekali tak mengetahuinya dan balik menanyaiku. Aku menangis
ibu, dan kau tak tahu seberapa besar kekawatiranku dan Deddy yang begitu
panik mencarimu kemana-mana. Seakan-akan kami berdua baru saja
kehilangan jiwa kami, aku merasa tubuhku kosong, nafasku terasa berat.
Berhari-hari aku mengingat dan memikirkan keadaanmu. Aku takut kalau
sakit yang kau derita kambuh lagi karena kau tak akan mampu melangkah
jika sakit itu kambuh. Aku takut jika aku tak bisa menemuimu lagi dan
mendengarkanmu menyanyikan lagu itu untukku.
Bu saat itu tak ada lagi sandaran buat aku untuk bercerita. Tak ada lagi
orang yang bisa aku percaya. Ayah terlalu sibuk dengan masa dudanya,
adik juga, mereka hanya sibuk dengan diri mereka sendiri. Akulah kini
yang bertanggung jawab, mengerjakan segala sesuatu di rumah. Ibu,
sekarang aku tak bisa menikmati masa remajaku, itu semua karena
tanggung jawabku yang tak bisa aku tinggalkan. Kerap kali aku jadi stres
karena aku harus membagi waktuku antara kuliah dengan kerjaan. Aku juga
tak pernah dihargai oleh mereka. Aku selalu saja dianggap tak bisa
membuat mereka bangga, padahal mereka tahu sendiri bagaimana letihnya
aku karena memikul beban ini sendirian.
Ibu andai saja ada dua pilihan, satu-satunya yang kupilih adalah ikut
bersamamu, andai saja wanita Bali bebas memilih adat, aku yang pertama
kali yang akan ikut adatmu, asalkan aku tetap berada di dekatmu,
mendengarkan nyanyianmu, itu sudah membuatku merasa nyaman.
Sekali lagi aku ingin mendengarkan nyangiann itu ibu. Jika kita
dipertemukan kembali, aku ingin kau nyanyikan lagu itu lagi untukku
seperti sepuluh tahun yang lalu di saat aku masih merengek-rengek dan
selalu minta kau rangkul.
Mitzutori
(bhs indo smt 5 B)MHSRWT. C. II
Labels: Sad Story
Maafin Bella, Yah...
Seperti biasanya, sepulang dari sekolah, Bela mengajak beberapa temannya
untuk mampir ke rumahnya. Mereka pun langsung masuk ke dalam kamar
Bella tanpa menemui Ayah Bela yang sedang terbaring lemas di ranjang.
Lalu, Bella memilih kaset dan memasukkannya ke dalam tape radio serta
menyetelnya dengan suara yang cukup keras. Mereka sangat menikmati musik
tersebut tanpa mempedulikan ayah Bella yang sedang sakit. Karena tak
tahan dengan kelakuan Bella dan teman-temanya, Ganis, kakak Bella pun
keluar dari kamar ayahnya dan menuju ke kamar adiknya itu. Pintu kamar
yang tak terkunci itu pun langsung didorongnya dengan wajah kesal.
“Bella!! Kecilin suara musiknya dong!! Ayah kan lagi sakit! Sudah pulang
enggak salaman dulu sama ayah, sekarang kamu malah buat kegaduhan!”,
bentak Ganis.
"Dia itu bukan ayah kita, kak! Lagi
pula, dia aja enggak protes, kok malah kakak sich yang protes!?”, sahut
Bella melawan bentakan Ganis.
"Kakak tahu! Dia memang bukan ayah kandung kita, tapi dia sudah lama
tinggal sama kita dan berusaha untuk menjadi ayah tiri yang baik. Jadi,
kamu harus menghormati dia juga dong Bel!!", kata Ganis menasehati
adiknya.
"Ayah kamu lagi sakit, Bel? Pantasan, tadi dia enggak ngajar matematika.
Kok, kamu enggak bilang sich Bel?! Kita jenguk ayah kamu aja yuk!?",
sela seorang teman Bella.
"Jenguk aja sendiri!!", tolak Bella langsung mengusir teman-temannya dan mengunci rapat pintu kamarnya.
"Bella!! Kamu kok gitu sich!? Jangan egois dong!!", tambah teman Bella yang lainnya.
"Biarin aja! Udah sana, kalian jenguk aja tuh guru kesayangan kalian! Aku mau sendirian aja di kamar!!", bentak Bella.
Tak terdengar balasan dari balik pintu kamar Bella yang terkunci. Ganis
beserta teman-teman Bella pun berjalan menuju kamar ayah tanpa
mempedulikan Bella.
Pukul 20.00 WIB, waktunya makan malam bersama di rumah Bella. Namun,
Bella enggan keluar dari kamarnya. Sudang dipanggil berkali-kali, ia
tetap saja mengurung diri di kamarnya. Ini memang sudah menjadi kejadian
yang lumrah di rumah Bella. Semenjak ayah kandungnya meninggal
meninggal dunia dan digantikan oleh ayah tirinya dua tahun yang lalu,
sikap dan sifat Bella menjadi berubah. Ia tak mau mengganggap ayah
tirinya sebagai ayah, apalagi untuk memanggil "Ayah", terasa ada sesuatu
yang mengganjal di tenggorokannya. Padahal, ayah tirinya bukan monster
seperti yang ada di televisi-televisi. Ayah tirinya termasuk orang yang
baik dan sabar dalam menghadapi tingkah laku Bella.
"Kok, enggak dimakan Yah?”, tanya Ganis yang mendapati ayahnya sedang termenung meratapi makanan yang ada di piring.
"Ayah mau nunggu Bella, Nis", jawab ayah dengan suara parau. “Bella
enggak akan keluar Yah! Udah, ayah makan duluan aja ya?! Nanti, kalau
dia udah mulai kelaparan juga keluar sendiri”.
“Iya, ayah makan aja duluan. Biar cepat sembuh. Nanti, makanan Bella biar bunda yang antar ke kamarnya”, tambah bunda.
Mereka pun melahap santapan makan malam tanpa kehadiran Bella. Seusai makan malam, bunda mengantar makanan ke kamar Bella.
“Bella . . . ini bunda antarkan makan malam kamu. Kamu pasti sudah
laparkan?”. Tak terdengar sedikit jawabanpun dari mulut Bella.
Aku ambil makanannya enggak ya??
Malas akh!! Nanti aku ambil sendiri aja di ruang makan. Pokoknya, kalau
aku lagi marah, enggak boleh tanggung-tanggung, harus seharian. Kalau
perlu sampai besok! Biar om-om itu nyadar, kalau kehadirannya di sini
cuma ngerepotin keluarga aku.
“Bella!?”, seru bunda.
“Aku udah kenyang bun! Aku enggak mau makan!”.
“Ya sudah”, sahut bunda singkat.
Sekitar tengah malam, perut Bella mulai keroncongan. Bella pun
mengendap-endap keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan. Dibukanya
tudung saji yang tertutup rapi, namun hanya terdapat nasi dan telur
dadar.
“Lauknya kok cuma telur dadar sich?
Bunda enggak masak atau lauk yang lainnya udah pada habis . . .?!”,
tanya Bella pada dirinya sendiri.
“Kamu lapar juga, Bel!?”, kaget bunda dari belakang. “Udah enggak!!
Habis, lauknya cuma telur dadar sich!!”. “Bunda tadi enggak sempat
masak, Bel. Soalnya, bunda harus jagain ayah kamu. Tadi, suhu tubuhnya
tinggi lagi. Lagi pula, uang bunda sudah tinggal sedikit”, ujar bunda.
“Dia lagi-dia lagi!! Heran ya, kok pada
ngebelain dia semua sich?! Dipelet kali ya!!?? Lagian, sakit-sakitan
terus sich!! Jadinya ngabisin uang bunda dech! Kalau jadi guru honorer
tuh, harus rajin ngajar! Jangan tiduran mulu!!”, ejek Bella.
“Bella!! Kalau ngomong tuh dipikir-pikir dulu ya!? Jangan asal nyeplos aja!!”, bentak bunda.
Bella pun berlari meninggalkan bundanya menuju kamar dan membanting
pintu kamarnya dengan sekuat tenaga. Bunda sudah tidak tahu harus
bagaimana lagi menasehati putri bungsunya itu. Seisi rumahpun terkejut
mendengarnya. Ganis langsung keluar dari kamar dan menghampiri bunda.
Bunda menangis dalam dekapan Ganis.
“Udah, bunda jangan nagis lagi ya . . . ?! Bunda kan tahu sendiri
bagaimana sikap Bella sekarang ini. Dia udah enggak seramah dulu lagi.
Berubah drastis bun . . .”, kata Ganis.
Bunda melepas dekapan itu. “Ya sudah, bunda mau mengecek kondisi ayah kamu lagi ya . . .?!”.
"Iya"
Kemudian, bunda dan Ganis pun kembali ke kamarnya masing-masing.
“Bella marah-marah lagi ya, Bun? Pasti gara-gara ayah. Saya memang bukan
ayah yang baik buat Bella. Saya sudah merepotkan kamu. Besok, saya akan
mengajar lagi. Saya tidak mau kalau gaji kamu habis untuk membeli obat
saya”, kata ayah dengan suara pelan.
“Ayah enggak boleh bilang kayak gitu.
Lebih baik ayah istirahat dulu, mengajarnya cuti saja”. “Besok saya
tetap akan mengajar”, kata ayah mantap.
Tiga hari sudah, ayah tidak mengajar matematika di SMU di mana Bella
bersekolah. Setelah kejadian semalam, ayah pun memaksakan diri untuk
pergi mengajar, walau kondisi kesehatannya belum pulih benar, saat
mengajar di kelas Bella, Bella menunjukkan paras yang tidak senang atas
kehadiran ayah tirinya itu. Bella memang tak pernah memperhatikan
ayahnya ketika menjelaskan pelajaran. Sepulang sekolah, Bella mencoba
menyetir mobil milik temannya di jalan yang cukup sepi. Kerena belum
terbiasa menyetir mobil, pandangan mata Bella kurang fokus ke depan.
Tiba-tiba ada seorang bapak sedang melintas menggunakan sepeda motor
butut. Bella yang menyetir sambil berbicang-bincang dengan
teman-temannya itu, tiba-tiba hilang kendali dan akhirnya,
PLASH..... sepeda motor itu ditabraknya. Bella dan teman-teman pun
keluar dari dalam mobil. Mulut Bella bagai gawang yang kebobolan bola.
Ia terkejut, ternyata orang yang ditabraknya tak lain adalah ayah
tirinya sendiri. Bella panik bukan main dan langsung melarikan diri.
"Bella!! Dia ayah kamu! Kamu harus bawa dia ke rumah sakit, Bel!!”, teriak salah seorang teman Bella.
“Aku takut!! Nanti kalau aku ditangkap polisi gimana?!”.
“Bel, kamu harus tanggung jawab dong! Dia itu ayah kamu, Bel!! Kamu
enggak akan ditangkap polisi kalau kamu bawa dia ke rumah sakit!”.
“Dia bukan ayah aku!! Aku enggak mau bawa dia ke rumah sakit!”, tolak Bella.
“Dia emang bukan ayah kandung kamu! Tapi dia tetap ayah yang harus kamu
sayangi, Bel . . . Dia mungkin juga bukan ayah yang terbaik bagi kamu,
pti dia udah berusaha untuk menjadi yang terbaik buat kamu dan keluarga
kamu! Kami ngeliat ketulusan dari mata dia kok, Bel! Kalau beliau itu
sayang sama kamu. Dia ayah kamu! Dan dia juga guru kita! Kalau dia
enggak tertolong lagi, kita enggak bisa ngerasain enaknya belajar
matematika lagi, Bel! Sadar dong Bel!!”, nasehat temannya.
Mendengar nasehat temannya itu, hati Bella luluh. Di lubuk hatinya yang
terdalam, di memori pikirannya yang jauh, Bella memikirkan kebaikan ayah
tirinya itu. Dari kesabarannya, kebaikannya, keikhlasannya, dan
ketabahannya dalam menghadapi Bella. Dengan cpat, Bella dan
teman-temannya membawa ayah ke rumah sakit terdekat. Bella langsung
menghubungi bunda dan kakaknya. Bunda, Bella, Ganis, dan teman-teman
Bella khawatir dengan keadaan pasien itu. Dokter pun langsung menangani
ayah dengan serius. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dari ruangan
untuk memberitahu keadaan ayah. Dan ayah pun sudah tersadar. Mereka
semua masuk ke dalam ruangan untuk menjenguk ayah. Bella berlari dan
memeluk hangat tubuh ringkih ayahnya seraya meneteskan air mata yang
sempat tertahan di bola mata indahnya.
“Maafin Bella ya, Yah!? Bella enggak sengaja nabrak ayah”, jujur Bella.
Bellla yang awalnya tidak mau bercerita dengan keluarganya, akhirnya
menceritakan kejadian yang sebenarnya. Awalnya, bunda ingin mengusir
Bella, namun ayah mencegahnya.
“Bel, ayah senang . . . kamu sudah bisa panggil saya ayah. Ayah ikhlas
ditabrak kamu, asalkan akhirnya kamu bisa menerima dan panggil saya
dengan sebutan ayah”. Sebegitu besarnya pengharapan ayah kepadaku!? Aku emang jahat banget ya!? kata Bella dalam lubuk hatinya.
“Ayah harus lekas sembuh, ya!? Biar bisa ngajar matematika lagi”.
“Iya, nak . . .”.
Bella seperti tak ingin lepas dari pelukan ayahnya itu,. Bunda dan Ganis
pun memeluk ayah dan Bella. Tak lama berpelukan, Bella pun melepaskan
diri dari dekapan keluarganya itu.
“Bella janji, Bella akan panggil ayah
sekarang dan sampai kapan pun juga. Aku udah lama enggak ngucapin kata
ayah. Aku kangen sama sosok seorang ayah. Maafin Bella ya, Yah!?”.
“Kamu enggak perlu minta maaf. Ayah sayang sama kalian. Ayah akan
berusaha untuk menjadi seorang ayah yang terbaik buat keluarga ini,
khususnya untuk kamu dan kakak kamu. Walau mungkin, ayah enggak akan
pernah bisa untuk menggantikan ayah kandung kalian”. Bella dan Ganis
menjabat erat tangan ayahnya.
“Bella sayang sama ayah. Maafin Bella, Yah!?”, ucap Bella sekali lagi.
“Kami juga sayang sama pak guru!! Hehehehehe . . .”, tambah teman-teman Bella.
Ayah dan bunda hanya tersenyum lega. Akhirnya, Bella tersadar juga,
bahwa betapa sabarnya sang ayah untuk menantinya menyambut ayah tirinya.
Sekarang dan seterusnya, Bella akan memanggil “ayah” kepada ayah
tirinya dan hidup bahagia bersama keluarganya. Wala memang, ayah itu
bukan ayah kandungnya.
“Sekali lagi, maafin Bella, Yah!?!”.
Labels: Sad Story
Mimpi Terindah Sebelum Mati
WRITTEN BY kucumcucum
♥Friday, December 7, 2012 [
1 comments ]

Cerpen Maya Wulan
RAMADHANI, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu
kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih
dulu pergi darimu. "Mati muda," kataku datar. Dan kau selalu saja
mengunci mulutku dengan cara mencium bibirku. Memutus kata-kataku yang
menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus
berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi
kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada
lagi ciuman seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar
menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara
tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku,
sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya
sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.
Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya
saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa
dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata
rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa
yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua
tertiupkan ke alam ini.
NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan
renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang
sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum
tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring.
Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran
bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan
kini, aku bermimpi.
Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku
mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering.
Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu
yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak
melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah
tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?
Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. "Ayah
harus ke luar negeri," kata ibuku padaku suatu malam.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk bekerja," sahut ayahku. "Ayah janji tidak akan pergi
lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di
kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan
kembali di sini."
Aku memasang wajah tak percaya, "Ayah janji?"
Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku
mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.
Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi
ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas
mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayah. Aku mulai menangis dan
marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak
makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku,
Ramadhani. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang
lagi. "Ayah sudah terbang ke surga," katanya.
Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau
melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga
mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus
terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.
Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari
dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti
menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa
dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju
padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng
tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.
Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan
menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki
di sebelahku, "Apa ayahku ada di sana?"
"Benar," jawabnya.
"Di mana?"
"Di langit ke tujuh."
"Apa kita bisa ke sana?" tanyaku tak sabar.
"Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" sahutku semangat.
"Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak,
kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat."
"Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci
angka-angka!" aku berteriak.
"Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang."
"Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun."
"Percayalah, kau akan menyukainya."
"Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?"
"Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang."
"Benarkah?"
Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening
mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak
ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang
sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang
menjelma nada indah tersendiri bagiku.
"Apa kita bisa menghitung suara ini?" kataku menunjuk bunyi
jantungku.
"Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung
sesuatu yang kita sukai."
"Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?"
"Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati."
"Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?"
"Ya."
"Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?"
"Tentu saja."
"Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi," kataku pelan.
"Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya," jawab laki-laki itu.
"Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti
yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami."
"Bagaimana dengan temanmu, Ramadhani?"
Aku terhenyak. Ramadhani? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya
begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di
satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Ramadhani akan baik-baik
saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku
tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti
dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari
kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun
kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali
ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan
berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus
sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan
rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Ramadhani, kalau setelah ini aku harus pergi,
maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum
matiku. Kataku dalam hati.
AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca.
Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan
jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi
kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau
takkan percaya, Ramadhani, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.
Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Ramadhani, menciumi bibirku ketika aku
bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat
sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Ramadhani,
lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku
menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.
Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu
yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, "Hei, itu kau,
Ramadhani. Kau juga di sini?" tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama
kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku.
Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?
Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total
terengah-engah. Ini melelahkan, Ramadhani. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman
unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih
menarik daripada menghitung langit atau bintang.
Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari
tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat
membuatku tercekat.
Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya.
Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter
mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, "Aku akan merindukan
ciumanmu, Ramadhani." Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan
hanya terus menangis. ***
Sidoarjo-Yogyakarta, 2004-2005
Labels: Sad Story
Tolong jaga mata saya baik-baik
WRITTEN BY kucumcucum
♥Friday, September 7, 2012 [
2 comments ]
Terjemahan:
Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena dia buta. Dia juga membenci semua orang, kecuali pria kekasih tercintanya. Dia selalu ada untuknya. Gadis itu mengatakan kalau seandainya dia bisa melihat, maka dia akan menikahi pria kekasihnya itu.
Suatu hari, seseorang mendonasikan sepasang matanya untuknya agar dia bisa melihat segalanya, termasuk kekasihya itu.
Kekasih prianya itu bertanya padanya,
"karena sekarang kau sudah bisa melihat, apakah sekarang engkau mau menikahiku?"
Gadis itu shock dan kaget karena kekasihnya itu ternyata juga buta, dan dia menolak untuk menikahinya.
Pria itu pun pergi dengan kesedihan yang sangat mendalam, dan beberapa waktu kemudian dia menuliskan surat untuk gadis itu.
"TOLONG JAGA MATA SAYA BAIK-BAIK....."
Beginilah manusia berubah ketika status mereka berubah. Hanya beberapa orang yang mengingat seperti apa hidupnya dahulu, dan siapa yang telah menemaninya pada saat-saat menderita.
Labels: Sad Story
Twin tears
By Awaliya Nur Ramadhana
Aku tak tahu apa salahku? Yang
jelas, kedua orangtuaku tak memperhatikanku dan slalu menyuruhku agar
dapat menyenangkan hati adikku. Yap, adikku sekaligus musuhku di rumah
ini.
“Na… Kamu ngapain, sih? Temani adikmu sana! Dia mau kamu temenin main.” Teriak mama yang sibuk dengan kebunnya.
Aku langsung menarik nafas panjang. Ah.. padahal aku mau istirahat dan
nonton sinetron kesayanganku hari ini. terpaksa aku menemani adikku yang
manja itu.
“Kak, aku mau minum susu,” perintahnya kepadaku dengan wajah memelas. Ia
sangat senang bermain denganku. Yah, walaupun aku tak sepenuhnya
menemaninya. Kadang aku tak menghiraukannya dan membiarkannya main
sendirian.
“Hah.. kamu bawel banget, sih?!” tak selang lama setelah kubicara,
handphone ku bunyi. Ternyata teman-temanku ngajak jalan bareng.
“Minta sama mama saja sana! Aku mau jalan sama temen aku!” ujarku langsung beranjak dari hadapannya.
Jalan-jalan memang hobiku. Sayang, waktuku untuk jalan-jalan selalu
dikuras habis oleh adikku hanya untuk menemaninya bermain permainan
konyol itu.
Aku bingung terhadap kedua orangtuaku yang tak mau menyekolahkannya ke
Playgroup atau sejenisnya. Alasannya, hanya karena adikku tidak mau
pisah sama aku. Dan terpaksa, aku sekolah di rumah bersama dengannya.
Kadang bahkan sering aku bosan belajar di rumah dengan hanya seorang
guru.
Aku tak tahu, kenapa mereka
begitu memperhatikan adikku dibanding aku. Mungkin karena adikku cacat.
Ia hanya mempunyai satu tangan . Dan perkiraanku, itu yang membuat
orangtuaku begitu peduli dengannya.
Aku menghabiskan waktu yang lama untuk perjalananku hari ini. aku dan
teman-temanku shopping di mall. Aku tak menghiraukan seberapa lama aku
menghabiskan uang dan waktuku. Karena ini kesempatanku untuk bebas dari
adikku.
“Luna… Kita ke salon, yuk!” Viza, temanku yang sangat mementingkan fashion itu selalu mencari ikesempatan untuk menguras uangku.
“Apa-apaan, sih, Za! Ini sudah malam. Kita harus pulang!!!” Perintah
Lifa. Satu-satunya temanku yang punya perasaan. Dia merupakan penasihat
diantara kami semua.
“Jangan dulu! Lebih baik kita ngisi perut. Aku sudah lapar!!” Satu lagi
orang yang tak memperhatikan temannya. Moy, orang yang paling gemuk
diantara kami. Ia hanya mementingkan perutnya.
“Udahlah! Mending kita jalan-jalan ke distro dulu.” Usulku yang sangat suka shopping.
“Ah, gak asyik semuanya!Udah, mending ke rumahku. Kita nonton film. Aku
baru beli film fantasi kemarin. Seru, lho!! Magicnya hebat, cuy!” Ini
dia, Xey. Satu-satunya cowok yang berteman dengan kami. Sangat suka sama
yang namanya magic. Dan sekarang dia sekolah sulap.
Memang kami semua mempunyai perbedaan yang sangat besar dan jauh. Namun,
kami sudah lama berteman. Sejak aku pindah rumah, aku jadi banyak
memperoleh teman di komplek tempat aku tinggal.
“Aku bilang, kita harus PULANG..!!! Ini sudah malam! Nanti orangtuaku kita nyariin.” Teriak Lifa kesal dengan kami.
“Ah, gak mungkin lah orangtuaku cariin aku.” Ujarku pasti. Tak selang
lama setelah aku mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba papa nelpon.
“Hallo, kenapa, Pa?”
“Kamu kemana aja?! Cepat pulang! Adikmu butuh kamu!” Aku langsung
menutup pembicaraan itu. Aku sudah menebak , jika mereka cariin aku ,
pasti karena adikku yang minta. Kenapa, sih, selalu aku yang disuruh?
“Kenapa, Lun?” tanya Lifa
“Gak. Biasalah, gak penting!” sahutku kecut.
“Oh, ya sudah! Kita pulang sekarang!” Perintah Lifa lagi.
“Gak, Lif! Aku gak mau..!” Bentakku.
“Kamu kenapa, sih?! Ya sudah, TERSERAH! Aku saja yang pulang.” Lifa
marah dan langsung pergi. Kami yang tersisa saling tatap. Akhirnya, kami
memutuskan untuk pergi sendiri-sendiri. Aku yang tidak mau pulang,
pergi ketempat yang semula kuinginkan, distro. Tak jauh dari mall itu,
tepatnya di seberang jalan, ada sebauh disto favoritku. Aku segera
menyeberang jalan raya yang ramai itu tanpa memperdulikan sekitarku.
Ketika ditengah jalan, tak sengaja tasku tersangkut di spion sepeda
motor seseorang. Aku berusaha melepaskannya. Tapi, sepeda motor itu
tetap berjalan. Dan, tepat di depanku, ada sebuah mobil yang melaju
cepat. BRUKKK…( deg..deg.. deg..)
Pandanganku masih remang-remang. Ternyata aku sudah ada di rumah sakit.
Aku di dorong menuju ruang UGD. Kulihat tubuhku berlumuran darah.
Sesampainya di ruang UGD, aku melihat seorang pasien perempuan di
sampingku. Ups, itu kan Leny, adikku. Apa aku tak salah lihat? Atau ini
efek dari benturan di kepalaku? … Adu-uh.. SAKIT
Ternyata aku pingsan lagi. Dan sekarang aku sudah berada di ruang inap.
Kulihat ayah dan ibuku sudah berada di sampingku. Mereka kelihatan
menangis. Apa mereka menangisiku? Apakah sekarang mereka
mengkhawatirkanku?
“Mah… Pah…” ucapku lemah.
“Luna….” Mamah masih menangis. Matanya kelihatan bengkak.
“Adikmu, Lun… Adikmu sedang kritis.” Ucapnya lagi.
Hah… Jadi mamah dan papah bukan menangisiku?! Tapi menangisi Leny!
“Kalian kenapa, sih?! Kenapa selalu Leny yang diperhatikan?! Kalian
tidak pernah mengkhawatirkanku. Apa aku bukan anak kalian?” Bentakku
sudah tidak dapat lagi menahan emosi yang supersulit itu.
“Astaghfirullah, Lun! Tidak seharusnya kau meremehkan adikmu! Dia patut
dikasihani. Apalagi KAU! Kau seharusnya menyayanginya. Karena dia
saudara kembarmu!” ujar mamah keras.
Aku langsung terkejut. Leny saudara kembarku?? Gak mungkin! Secara,
badanku lebih tinggi dan besar darinya. Selain itu, pikirannya masih
kayak anak TK. Padahal aku sudah SMP.
“Ketika kalian lahir, ternyata kalian kembar siam. Dan anggota tubuh
kalian bersatu. Mau-tak mua, kalian harus dioperasi untuk memisahkannya.
Ketika dioperasi, detak jantungmu melemah. Operasi pun dipercepat.
Gara-gara operasi itu, dokter memutuskan untuk memberikan tangan kiri
kalian yang cuma satu itu kepadamu. Leny pun harus rela jadi cacat.
Setelah kalian berumur 3 tahun, kami baru menyadari kalau pertumbuan
Leny lebih lambat dari kamu. Dan ternyata, Leny mengalami pertumbuhan
lambat itu Karena efek dari operasi itu.” Jelas papah tersedu-sedu.
“Leny rela tak mempunyai tangan hanya untuk menyelamatkanmu. Agar kamu
selamat dari operasi itu. dan akibatnya, pertumbuhannya jadi lambat!
Seharusnya, kamu berterima kasih dan menyayanginya.
Air mataku menetes. Hatiku terasa teriris-iris. Aku sangat menyesal. Ya
Tuhan! Ternyata Leny saudara kembarku. Leny, maafkan aku! Mengapa selama
ini, aku tak merasakan ikatan batin seperti yang dirasakan saudara
kembar lainnya. Apakah hatiku ini terlalu keras? Aku harus menebus
kesalahanku pada Leny. Aku segera pergi menuju ruang inap Leny.
Setibanya di sana, apa yang kulihat? Detak jantung Leny semakin melemah.
Kata dokter, Leny harus segera mendapatkan donor ginjal. Tanpa menunggu
lama, aku segera bersedia menjadi pendonor. Aku ingin menebus
kesalahanku pada Leny, sebelum tak ada waktu untukku menebusnya.
Akhirnya, operasi pun dilakukan.
DEG….. DEG…. DEG…..
Tiba-tiba, aku sudah berada di sebuah tempat yang sangat terang. Hanya ada aku dan….Leny? Hah.. dimana kami?
“Kakak.. terima kasih, Ka!” ujar Leny tersenyum.
“Kamu… Leny?” Aku seolah tak percaya dengan semua ini.
“Iya, Ka. Aku Leny. Saudara kembar kakak.” Sahutnya.
“Di mana kita?”
“Kita berada di alam yang berbeda dengan mamah dan papah. Kak, terima kasih kakak telah mau menemaniku di sini.” Ucapnya.
“Apa?!! Maksudmu kita sudah meninggal?!” tanyaku gemetaran.
“Iya, Kak”
Aku diam tanpa kata. Hanya hatiku yang berkata. Akhirnya aku bisa
menebus kesalahanku dengan menemaninya di sini. Yang tersisa hanyalah
airmata Mamah dan Papah di alam sana.
Kami lahir bersama. Bahkan, kami pergi dari dunia ini pun bersama.
PROFIL PENULIS
Hay.. Salam Kenal..
Namaku Awaliya Nur Ramadhana.
Kalau mau Tahu aku kunjungi
http://ramadhan-liya.blogspot.com
thanks to
Labels: Sad Story
Jagalah dia untukku
Cerpen Hanin Fathimah Sholihah (Hanin Adzkiya November)
Hari ini aku sangat senang, aku
habis jalan-jalan dengan Deni, orang yang aku sayangi. Hari-hariku
terasa bahagia dengan kehadirannya. Oh ya... aku adalah Nada, aku
mempunyai saudara kembar bernama Nida. Wajah kami tidak begitu mirip,
karena kami tidak kembar identik. Aku dan Nida tak dapat terpisahkan,
dari kecil kami selalu bersama-sama, pakaian kami selalu sama. Orang
tuaku tidak pernah pilih kasih pada kami, tidak membeda-bedakan kami
berdua. Aku termasuk orang yang aktif dan ceria, sedangkan kembaranku
lebih pendiam.
***
Akhir-akhir ini aku sering merasakan sakit di kepalaku. Seperti hari
ini, saat aku sedang menjelaskan di depan kelas, kepalaku sangat sakit,
tiba-tiba pandanganku buram dan gubrak.... aku pingsan. Teman-teman dan
guruku terkejut dan langsung membawaku ke UKS.
Saat aku sadar, Deni dan Nida sudah ada di sampingku.
“syukurlah, kamu sudah sadar” kata Deni.
“aku dimana? Kenapa aku disini?” aku bangkit sambil memegangi kepalaku yang masih sedikit sakit.
“tadi kamu pingsan Nad” kata Deni.
“iya Nad, tadi kamu pingsan saat menjelaskan di depan kelas” Nida menambahkan.
“aku ingat tadi aku menjelaskan di depan kelas, tapi aku tidak ingat lagi setelah itu”
“ya sudah, sekarang kamu istirahat saja” kata Deni.
“iya, Nad” Nisa menambahkan.
***
Karena akhir-akhir ini kepalaku sering sakit, aku memutuskan untuk
memeriksakannya ke rumah sakit. Tapi aku tidak memberitahu Nida apalagi
orang tuaku. Aku takut mereka mengkhawatirkanku.
“silakan duduk, nak Nada”
“terimakasih dok. Bagaimana hasilnya? Saya baik-baik saja bukan?”
“sebentar” dokter mengamati hasil pemeriksaanku.
“maaf nak Nada sepertinya saya harus memberitahukan ini langsung pada orang tua anda, karena ini sangat serius”
“memangnya kenapa dok? Sampaikan saja pada saya, nanti akan saya sampaikan pada orang tua saya”
“baiklah” dokter menghela napas. “nak Nada anda harus tabah, anda terserang penyakit kanker otak stadium akhir” jelas dokter.
Aku sangat terkejut mendengar penjelasan dokter. Seluruh badanku lemas. Aku belum bisa berkata-kata.
“penyakit ini sangat sukar untuk di sembuhkan, apalagi sudah stadium akhir”
“bagaimana dengan saya dokter?”
“saya hanya bisa memberikan obat untuk memperlambat perkembangan kanker itu, selebihnya kita serahkan pada Tuhan”
Aku menitikkan air mata. Kenyataan ini seperti mimpi.
***
Sekarang aku sering menyendiri dan diam. Ceriaku hilang setelah aku tahu
kenyataan ini. Tentu orang yang pertama kali menyadari perubahanku
adalah Nida.
“kamu kenapa Nad? Kok jadi diam begini.”
“aku nggak papa kok, cuman gak bersemangat aja”
“bener?”
“iya Nid, kamu tenang aja”
Hampir semua orang bertanya mengapa aku berubah. Mereka heran tidak ada
lagi Nada yang ceria, sekarang menjadi Nada yang pendiam. Nida, orang
tuaku, Deni dan semua teman-temanku mulai menyadari perubahanku ini.
Saat mereka menanyakan hal ini padaku, aku hanya mencari-cari alasan
yang masuk akal. Aku tahu, aku telah membohongi mereka semua. Maafkan
aku. Aku tahu lambat laun mereka mengetahui penyakitku ini. Tapi
sekarang aku belum siap memberitahu mereka, biarlah aku menanggung
penyakitku sendiri.
***
Sudah dua bulan aku menyembunyikan penyakitku ini. Aku semakin tersiksa.
Aku semakin sering pusing, mimisan, dan pingsan. Orang-orang di
sekitarku semakin mencurigaiku, tapi aku masih bisa menyimpan dengan
rapat hal ini dari mereka. Sampai suatu saat mama ke kamarku dan ia
melihatku sudah tergeletak di lantai dan darah keluar ari hidungku.
Orang tuaku segera membawaku ke rumah sakit terdekat. Aku tek sadarkan
diri beberapa hari. Dan saat aku dibawa ke rumah sakit, orang tuaku
bertanya tentang keadaanku pada dokter.
“sebenarnya ada apa dok dengan anak saya?” tanya papa.
“iya dok, mengapa seringkali Nada pingsan dan mimisan?” tambah mama.
“maafkan saya bu, saya baru bisa memberitahu bapak dan ibu sekarang” aku
memang meminta dokter untuk merahasiakan ini dari siapapun.
“Nada mengidap penyakit kanker otak stadium akhir”
Mamaku langsung menangis nendengar penjelasan dokter. Ia tidak percaya.
Papa berusaha tabah. “bagaimana keadaannya sekarang?”
“kanker otak itu semakin berkembang dan saya tidak bisa berbuat apa-apa
lagi. Kita hanya bisa berdo’a dan menyerahkan semuanya pada Tuhan saat
ini”
Orang tuaku terdiam.
***
Sudah tiga hari aku tak sadarkan diri. Dan selama itu pula Nida dan
orang tuaku selalu menemaniku. Juga Deni. Walaupun aku tak sadarkan diri
tapi seolah-olah aku dapat mendengar suara orang-orang yang
menyayangiku.
“mengapa kamu tidak memberitahukan ini padaku, Nad? Kasihan kamu, harus
menanggung penyakit ini seorang diri” suara Nida terdengar. Ia
menggenggam tanganku.
Setalah mendengar suara Nida, aku membuka mataku. Mereka sangat senang melihatku telah sadar.
“kamu sudah sadar, Nad. Kamu sudah tiga hari tak sadarkan diri” kata Nida.
Aku tersenyum dan berkata “umurku tidak lama lagi Nid, aku titipkan Deni
padamu. Jaga dia baik-baik dan kamu Deni aku mohon sayangilah Nida
seperti kau menyayangiku, jagalah dia demi aku” ku satukan tangan
mereka. Deni tersenyum padaku.
“tapi Nad?” ucap Nida.
“sudahlah Nida, aku mohon penuhilah permintaan terakhirku ini. Aku tahu
kau menyukainya. Aku ingin kau bahagia” aku memberikan senyum
terakhirku.
Dan terdengarlah suara alat di sampingku, menandakan aku telah tiada. Senyumku mengantarkanku pergi dari dunia ini.
“Nadaaa....” teriak Nida.
--T.A.M.A.T--
Labels: Sad Story
Meja di Sudut Ruangan yang Aku Suka
By: Cucuk Espe
Ini benar-benar bulan Desember. Hujan dimana-mana. Jalanan basah. Langit
hitam menggantung sepanjang hari. Dan angin bertiup terlalu kencang.
Dingin menusuk tulang. Musim penghujan tahun ini datang terlambat,
mungkin akan lama. Untung saja, kotaku yang kecil bukan termasuk wilayah
langganan banjir. Bukan karena disiplin penghuninya, tetapi rasio
penduduk dan luas wilayah sangat tidak sebanding. Membuat iri mereka
yang tinggal di kota besar yang padat dan sumpek. Kotaku kecil sehingga
tidak memerlukan kerja ekstra untuk mengurusnya.
Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan, dilahirkan dan dibesarkan di
kota itu. Apalagi setiap musim penghujan, aku paling suka melihat
jalanan kotaku basah. Dedaunan di sepanjang jalan terlihat mengkilat
pada sore hari. Terpaan lampu kota membuat deretan pohon di sepanjang
jalan layaknya pagar besi berkilau. Aku suka itu!
Sore ini, angin bertiup terlalu kencang. Hujan sejak pukul 12 siang tadi
belum juga berhenti, meski kini tinggal gerimis. Dari balik jendela
sebuah caffe shop di pinggir kotaku,, aku duduk menikmati gerimis itu.
Gerimis yang telah lama tidak aku temukan hampir sepanjang tahun ini.
Sekaligus gerimis yang selalu membuka beragam cerita yang menumpuk di
sudut batinku. Aku duduk di situ ditemani segelas cappucino sambil
menghisap rokok, pelan dan dalam. Mestinya aku merasa damai berada di
situ, nyaman dan melonggarkan pikiran.
Tetapi sore itu tidak!
Aku memang selalu datang ke tepat itu setiap sore sehabis mengirimkan
tulisan ke media yang bisa memuat esai-esai ‘kacau’-ku. Melepas penat
dan mungkin akan menemukan ide baru untuk bahan tulisan keesokan
harinya. Terlalu sering aku di situ. Hingga hampir seluruh pelayan
mengenalku. Keuntungannya, setiap aku masuk tanpa ditanya menu, langsung
dipersilahkan duduk di meja dekat jendela yang terletak di sudut
ruangan. Tempat yang aku suka!
Anehnya, sore itu aku menemukan diriku tidak biasanya. Perasaan ini
semakin aneh manakala melihat kaca jendela kusam dan buram. Kuusap
dengan tangan, terlihat beberapa anak bermain air di pinggir jalan. Anak
jalanan! Meski kotaku kecil, namanya anak jalanan tetap saja ada. Tentu
saja dengan tingkat kerumitan permasalahan yang berbeda. Anak jalanan
di kotaku masih memiliki rumah dan orang tua. Hanya saja orang tua
mereka tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga anak-anak mereka tidak
terurus. Berbeda dengan di kota besar yang ‘tuna’ segala-galanya. Bahkan
orang tua saja mereka bingung menentukan siapa dan dimana.
Aku tersenyum melihat tingkah mereka yang polos. Bermain air, saling
menendang, memukul, berputar, berlari, tanpa beban. Suasana tawa dalam
guyuran gerimis di luar terasa ringan. Seringan kapas! Berbeda dengan
suasana nyaman di sini, di sudut ruangan yang cozzy –kata anak-anak
muda—tetapi terasa berat, seberat awan hitam yang menggantung. Nyaris
jatuh.
“Sedang menunggu seseorang?” suara perempuan mengoyak lamunanku.
Perempuan muda dengan senyum enteng kutemukan telah duduk tepat di
depanku. Sejak aku mengenal dan menjadikan coffe ini tempat favorit
untuk meliarkan khayalan, baru sore itu ada perempuan datang dan duduk
tanpa aku minta. Aku agak gelagapan.
“Tidak juga. Kamu…,” aku belum menemukan pertanyaan yang sesuai untuk
sebuah ketiba-tibaan. Aku panggil ‘kamu’ karena aku yakin usia perempuan
ini jauh di bawahku.
“Maaf, jika mengganggu,” celetuknya.
“Tidak juga,” terpaksa aku mengulang kalimatku. “Terima kasih telah mamu duduk di meja ini.”
Ya! Aku formal banget. Perempuan itu tersenyum. Mungkin menertawai
sikapku yang diluar perkiraannya. Aku bisa menebak, dipikirnya aku akan
langsung menyodorkan senyum menggoda dan bergerak sangat agresif. Jujur,
aku memang sering seperti itu tetapi bukan untuk sebuah ketiba-tibaan
yang menghilangkan segala kecerdasanku. Benar! Aku terasa seperti lelaki
lugu.
Perempuan itu membetulkan posisi duduknya.
“Aku baru dua kali kesini. Pertama tiga hari lalu, dan duduk di meja
ini,” katanya. Aku mengingat tiga hari yang lalu, memang aku tidak ngopi
di sini. Aku ke rumah teman di luar kota. “Dan sore ini, ternyata
tempat ini enak juga ya…,” lanjutnya.
“Aku sering ke sini,” jawabku seolah menyiratkan di meja inilah tempatku!
“O…ya?”
“Hampir setiap sore. Dan duduk di sini.”
“Selalu di sini?” tanya perempuan itu lagi.
“Ini tempat yang terlindung,” jawabku sambil melirik ke pot-pot bunga
yang berjejer mengelilingi sudut ruangan tempat favoritku. “Tidak
terlihat tetapi bisa melihat siapa saja yag masuk.”
“Pilihan tepat. Lalu kenapa tadi aku mengejutkanmu?”
Sialan! Rupanya dia tahu kalau aku tadi sangat terkejut melihat kedatangannya.
“Lihat anak-anak itu! Mereka membuatku tidak menyadari ada seseorang
telah berada di depanku,” jawabku sekenanya. Perempuan itu tersenyum.
Giginya terlihat sangat terawat.
“Maaf, kita belum kenalan, Oka…” kusodorkan tangan. Dia menyambut tanpa ragu.
“Jenny.”
“Baru di kota ini?”
“Betul. Aku tinggal bersama saudara sepupu di ujung jalan ini,” jawabnya.
Setelah berkenalan itulah, pembicaraanku dan Jenny berlangsung lancar.
Bahkan kini terlihat bakat asliku; agresif dan suka memutar balik logika
kalimat lawan bicara. Tak terasa hampir dua jam, aku dan Jenny terlibat
pembicaraan tanpa arah. Ringan tetapi aku tahu, Jenny sangat suka.
Bahkan dengan gayanya yang khas Jenny menceritakan kondisi keluarganya
di Jakarta yang berantakan. Ayahnya harus balik ke Singapura sedangkan
ibunya tetap tinggal di Jakarta, serumah dengan pria selingkuhannya. Aku
menghela napas panjang dan dalam. Dari dulu, peroblematika hidup kota
besar tak jauh bergeser. Cinta, uang, pengkhianatan….klise! Bentakku
dalam hati.
Hujan di luar sedikit mereda. Tetapi jalanan mulai gelap. Temaram lampu
kota, sekuat tenaga menembus dinginnya udara basah. Kulihat Jenny
semakin menikmati suasana, seolah ingin melepaskan beban yang puluhan
tahun menimbun kebebasannya.
“Apa tidak terlalu malam?” kataku mengingatkan.
“Aku masih suka di sini. Oka keberatan?”
Aku menggeleng.
Akhirnya aku melanjutkan pertemuan itu hingga larut malam. Jenny memang
luar biasa dengan segala permasalahan hidupnya. Diceritakan dengan
detail, mungkin tanpa tertinggal secuilpun. Aku menikmatinya. Keliaran
pikiranku menangkap cerita Jenny dengan penuh semangat. Ini ide hebat!
Pikirku.
Hingga pagi. Tetapi tidak di coffe itu lagi. Kutemukan tubuhku, lunglai
dalam pelukan Jenny. Malam yang penuh gerimis telah membuka segala
cerita, menimbun segala duka. Ini sisi kreatifku yang terkadang muncul
tanpa kusadari. Maaf…
* * *
Kubatalkan semua rencana yang telah kususun rapi sejak semalam. Ke rumah
teman, lantas mampir ke perpustakaan kota, dan ngopi di tempat biasa.
Semangatku mendadak terbang menyelinap di sela mendung yang membekap
matahari pagi. Kini, gelapnya langit benar-benar membunuh ketenangannku.
Lantas mengumbar kecemasan yang sangat hebat. Aku tidak tahu harus
melakukan apa untuk menyingkirkan kenyataan mengerikan akan mengusik
kenyamanan pagiku. Mungkin juga kenyamanan seluruh usia hidupku.
Kubaca koran pagi; Jenny bunuh diri!
Seorang perempuan, tengah malam, ditemukan tewas tergeletak di pinggir
rel kereta dekat gerbang masuk kota. Diduga, perempuan itu menabrakkan
diri ke kereta barang yang melintas dengan kecepatan tinggi. Polisi
berhasil menemukan indentitas dalam tasnya, korban bernama Jenny, 27
tahun, warga Jakarta yang baru beberapa hari tinggal di kota ini…Kulipat
koran itu, napasku seolah berhenti sesaat. Tetapi jantungku berdegub
jauh lebih kencang. Itu perempuan yang bersamaku kemarin malam!
Aku membaca berita singkat itu sekali lagi. Sama. Aku yakin itu Jenny!
Tetapi kenapa dia melakukan hal bodoh itu? Kuhisap rokok sekedar
menenangkan pikiran. Tetapu justru malah blingsatan dan menyiksa. Entah
apa yang sedang terjadi dalam pikiranku, aku tidak tahu. Sedih. Takut.
Bersalah. Semua jadi satu! Apalagi ketika paragraf terakhir berita itu
kubaca; hasil visum tim dokter menyatakan kalau korban sedang hamil dua
bulan. Keringat dingin meluncur tak tertahankan lagi.
Apa karena kehamilannya itu membuat Jenny nekad? Berpuluh ingatan
singkat tentang Jenny memenuhi pikiranku. Aku terduduk. Lemas. Kurasakan
angin dingin menyelinap menggerakkan dedaunan di luar dan menelusup
melalui celah jendela. Kemarin malam, seolah tanpa beban, Jenny
menjelaskan sebagian peristiwa hidupnya.
“Kau tidak menyesal?” tanyaku.
“Lama sekali aku tidak mengenal perasaan itu.”
“Kenapa?”
“Kedua orang tuaku, seolah mengajarkan jika penyesalan adalah bentuk
pengingkaran,” Jenny menerawang kosong. Aku yakin, ada beban teramat
berat menggunung dalam batinnya.
“Rupanya ada bagian masa lalu yang menyakitkan?”
“Bukan sebagian hampir seluruhnya. Semua peristiwa terjadi pada diri
kita seolah diluar rencana baik yang kita susun. Aku tidak memiliki
kekuatan untuk menghentikan rangkaian peristiwa itu. Jadi, suka atau
tidak, harus dijalani,” jelas Jenny sangat dalam.
“Meski peristiwa itu akibat ulah kita sendiri?”
“Hanya persoalan cara pandang saja,” tukasnya pendek.
Selanjutnya, tanpa beban secuilpun menganggu perasaannya, Jenny
menceritakan pertengkaran kedua orang tuanya pada suatu malam.
Pertengkaran yang hebat! Ketika itu, Jenny tidak mengerti pangkal
permasalahan sebenarnya. Yang dia lihat, ayahnya menampar ibunya. Ibu
lebih berani lagi, membantah dan melontarkan kalimat kasar. Bukan
layaknya suami-istri. Jenny menangis menyaksikan semuanya dari balik
jendela. Sejak itu, ayahnya jarang pulang sedangkan dia sendiri pergi
menumpang rumah teman, agak jauh dari rumahnya.
Terakhir, Jenny mendapat kabar, kalau ayahnya telah pulang ke negara
asalnya, Singapura. Sedangkan ibunya pergi bersama lelaki
selingkuhannya. Jenny sendiri…merasa menemukan jalan hidupnya danm
menikmatinya seolah ingin membunuh peristiwa menyakitkan yang merubah
jalan hidup normalnya itu.
“Dan aku hamil,” kata Jenny pelan. Aku tak tahu harus bersikap apa.
Kalimat itu seakan ditujukan kepadaku dan menanti agar aku mampu
mengurai beban hidupnya. Aku tahu, apapun alasannya, ini adalah
kesalahan yang mesti diperbaiki. Tetapi bagaimana caranya? Ternyata
dibalik keceriaan Jenny ketika awal berkenalan, tersimpan peristiwa
cukup berat. Senyumnya mungkin untuk membunuh siksaan beban itu.
Aku tangkap tangan Jenny. Tiba-tiba kami menjadi sangat akrab.
“Itu alasannya hingga kamu meninggalkan Jakarta?”
“Kota itu terlalu menyiksa,” celetuknya pelan.
“Berarti akan lama tinggal di kota ini?”
“Belum tahu juga. Aku juga nggak enak dengan sepupuku.”
Begitulah, malam terus merambat hingga larut membawa pagi. Aku lebur
dalam duka Jenny yang mungkin tidak akan tersembuhkan. Aku sadar,
kehadiranku hanya akan melupakan bebannya sesaat. Tidak akan lama!
Tetapi pertemuan singkat itu, terasa begitu bermakna. Apalagi ketika
matahari menyelinap melalui lubang jendela, mengusik tidurku. Kelelahan.
Dan pagi ini…
Kutemukan tubuh yang penuh duka itu, kini penuh luka. Kuambil rokok,
entah batang yang keberapa. Asbakpun telah penuh. Namun batinku tetap
saja blingsatan. Pagi ini benar-benar hancur. Seperti kalimat Jenny
kemarin malam, penyesalan hanyalah wujud pengingkaran. Memang semua
garis peristiwa hidup harus dijalani tanpa protes sedikitpun. Karena
manusia memang tidak layak untuk protes. Dan mungkin saja –aku ragu
menggunakan kata ‘mungkin’—Jenny telah melanjutkan garis peristiwa
kehidupannya. Tanpa menyesal sedikitpun!
Kulirik koran yang terlipat di meja. Terlihat foto tubuh Jenny,
terbungkus kantung warna merah. Dan…dia hamil! Aku tersentak. Nyaris
tersedak. Berdiri. Dan melihat ke arah jendela, menerawang kosong.
Berpuluh kenangan menjejal dalam pikiran. Ketakutanku pun memuncak.
Jenny memang telah meninggal, tetapi bayi itu? Orok yang dikandungnya?
Bisa jadi –meski terlalu dekat jaraknya—aku juga memiliki anak itu.
Karena semalaman…Jenny!
Aku berteriak sendiri. Tanpa mampu menemukan solusi sedikitpun.
* * *
Kulihat dari balik jendela yang kusam, gerimis semakin lebat. Secangkir
kopi nyaris habis. Empat puntung rokok tersuruk dalam asbak. Pada meja
di sudut ruangan itu, aku duduk sendiri. Seperti hari-hari sebelumnya.
Tetapi sejak peristiwa itu terjadi, kini aku memiliki alasan lain untuk
duduk di meja itu. Terasa gelas cappucino milik Jenny belum kering.
Perempuan itu seolah terus mengajakku untuk selalu menemuinya di caffe
itu. Kunikmati pertemuan batin yang melegakan itu. Tanpa penyesalan.
Yang lebih penting, aku selalu duduk pada meja di sudut ruangan itu
untuk menziarai anak batinku dalam kandungan Jenny. Hal itu harus
kulakukan sebagai wujud penyesalan. Maaf…Jenny. Anak itu terlalu suci
untuk menanggung beban garis hidup orang tuanya. Aku pesan kopi lagi.
Gerimis bertambah lebat.**
-----------------------------------------------
Labels: Sad Story
Sebaris Nyanyian dari Ibu
WRITTEN BY kucumcucum Thursday, December 20, 2012 [
0 comments ]
Ibuku malang ibuku tersayang…
Tatap matamu Satu,
seakan kasih sebening kaca.
Masa-masa duka,
Kau bangkitkan gaya jua
Dalam mengarungI gelombang samudra hidup ini.
Nasib tiada pernah kau ratapi
Kau terima dengan tabah
Kehidupan ini kau anggap bagai menggarap sawah
Dengan keringat sendiri kau tanamkan rasa harga diri.
Nyanyian itu tak akan pernah terlupakan olehku. Nyanyian yang
mengingatkan aku akan ibu yang telah melahirkan aku dan membesarkanku
hingga aku menjadi seperti ini. Aku sangat bersyukur karena aku
mempunyai seorang ibu yang berhati mulia, yang setiap malam selalu
mengantar aku tidur sambil menyanyikan lagu itu, menasehati aku,
memberikan aku pujian dan membuat aku bangga padanya karena ketabahan
hatinya. Meskipun sering kali aku membuatnya kecewa tapi ibu tak pernah
sedikitpun membesarkanya. Dia tahu bagaimana yang seharusnya dia lakukan
untuk memberiku semangat ketika aku merasa terpuruk, patah hati dan
hilang kendali. Ibu adalah teman yang selalu mengisi hariku dan tempat
berlabuh dimana semua kekesalan ku terobati. Ibu, aku rindu
padamu...kapan kau akan menyanyikan lagu itu lagi? Kapan kau akan
menjaga aku ketika aku tengah sekarat, dikala tak mampu untuk menyuap
makanan. Kaulah penolongku ibu. Aku rindu semua itu. Biar sedewasa
apupun diriku, jika berada di dekapmu aku merasa diriku seperti sepuluh
tahun yang lalu. Merengek, manja dan selalu ceroboh.
Akhir-akhir ini, Aku tahu kau merasa terkekang dengan sikap ayah,
merasa dihianati, merasa tak dihargai. Aku tahu kau sangat prustasi.
Sering kali dalam keluarga kita terjadi percecokan dan semua kesalahan
selalu dilimpahkan padamu. Kau menerimanya dengan lapang meskipun kau
tahu sendiri kalau itu bukan kesalahmu. Ayah tak tahu apa-apa tentang
kasih sayang yang kau berikan kepada kami. Dia hanya bisa menuntut dan
menuntut agar kita menuruti semua kemauannya dan jika tidak, kitalah
yang dianggap tak tahu berterima kasih atas nafkahnya. Kau tak pernah
menyadarinya ibu, sehabis kau dan ayah bertengkar, aku tak pernah absen
mengintipmu yang sedang menangis termangut-mangut dan kau sesekali
menyalahkan dirimu sendiri. Ketika aku mulai terhanyut oleh tangisanmu,
tanpa aku menyadari air mataku ikut menetes. Setitik, dua titik hingga
mataku sembab.
Tak berakhir di situ. Semua orang mengejekmu, menghinamu karena kau
dianggap tak berhasil dalam mengurus keluarga, karena kau disebut-sebut
sebagai wanita jalang dan materialistis. Padahal mereka tidak tahu
apa-apa. Mereka hanya pandai membuat masalah baru tanpa mengintropeksi
diri mereka terlebih dahulu. Aku jadi geram mendengar kata-kata mereka.
Kalau saja mereka bukan keluarga dekat kita, ingin rasanya aku
menghantam dan menjahit mulut mereka agar berhenti membuat gosip yang
tak sedap mengenaimu. Bukanya aku tak berani membelamu, hanya saja
mereka terlalu tua, dan bukankah ibu pernah menasehatiku, ”kalau ada
orang yang berbuat nggak baik terhadap kita, kita harus diamkan karena
karma masih berlaku di muka bumi ini Ka.” dan aku sangat, sangat
menghargai nasehatmu itu.
Itu bukan sekali, dua kali kau mendapat perlakuan tidak baik dari
mereka. Mereka memang nggak punya perasaan Bu, dan yang terakhir kau di
fitnah berselingkuh hingga terjadi percecokan yang paling hebat dari
yang sebelumnya. Sebegitu tak tahannya dirimu atas ketidakadilan
tersebut, kau terpaksa pergi meninggalkan aku dan Deddy. Kau pergi tepat
pada saat aku terjaga oleh mimpi meskipun tanpa nyanyian itu. Kau pergi
pada tanggal 17 januari 2010, pukul empat ketika fajar belum tampak
dari wajah bumi. Kau pergi dengan membawa luka serta kesedihanmu.
Padahal tujuh hari sebelumnya, kita baru saja melangsungkan pesta ulang
tahunmu yang ke-38.
Aku bingung mencarimu ibu. Aku mencoba untuk menghubungi kerabat dekat,
kerabat jauh bahkan temanmu. Bertanya dimana kini kau berada, tapi
mereka sama sekali tak mengetahuinya dan balik menanyaiku. Aku menangis
ibu, dan kau tak tahu seberapa besar kekawatiranku dan Deddy yang begitu
panik mencarimu kemana-mana. Seakan-akan kami berdua baru saja
kehilangan jiwa kami, aku merasa tubuhku kosong, nafasku terasa berat.
Berhari-hari aku mengingat dan memikirkan keadaanmu. Aku takut kalau
sakit yang kau derita kambuh lagi karena kau tak akan mampu melangkah
jika sakit itu kambuh. Aku takut jika aku tak bisa menemuimu lagi dan
mendengarkanmu menyanyikan lagu itu untukku.
Bu saat itu tak ada lagi sandaran buat aku untuk bercerita. Tak ada lagi
orang yang bisa aku percaya. Ayah terlalu sibuk dengan masa dudanya,
adik juga, mereka hanya sibuk dengan diri mereka sendiri. Akulah kini
yang bertanggung jawab, mengerjakan segala sesuatu di rumah. Ibu,
sekarang aku tak bisa menikmati masa remajaku, itu semua karena
tanggung jawabku yang tak bisa aku tinggalkan. Kerap kali aku jadi stres
karena aku harus membagi waktuku antara kuliah dengan kerjaan. Aku juga
tak pernah dihargai oleh mereka. Aku selalu saja dianggap tak bisa
membuat mereka bangga, padahal mereka tahu sendiri bagaimana letihnya
aku karena memikul beban ini sendirian.
Ibu andai saja ada dua pilihan, satu-satunya yang kupilih adalah ikut
bersamamu, andai saja wanita Bali bebas memilih adat, aku yang pertama
kali yang akan ikut adatmu, asalkan aku tetap berada di dekatmu,
mendengarkan nyanyianmu, itu sudah membuatku merasa nyaman.
Sekali lagi aku ingin mendengarkan nyangiann itu ibu. Jika kita
dipertemukan kembali, aku ingin kau nyanyikan lagu itu lagi untukku
seperti sepuluh tahun yang lalu di saat aku masih merengek-rengek dan
selalu minta kau rangkul.
Mitzutori
(bhs indo smt 5 B)MHSRWT. C. II
Labels: Sad Story
Maafin Bella, Yah...
Seperti biasanya, sepulang dari sekolah, Bela mengajak beberapa temannya
untuk mampir ke rumahnya. Mereka pun langsung masuk ke dalam kamar
Bella tanpa menemui Ayah Bela yang sedang terbaring lemas di ranjang.
Lalu, Bella memilih kaset dan memasukkannya ke dalam tape radio serta
menyetelnya dengan suara yang cukup keras. Mereka sangat menikmati musik
tersebut tanpa mempedulikan ayah Bella yang sedang sakit. Karena tak
tahan dengan kelakuan Bella dan teman-temanya, Ganis, kakak Bella pun
keluar dari kamar ayahnya dan menuju ke kamar adiknya itu. Pintu kamar
yang tak terkunci itu pun langsung didorongnya dengan wajah kesal.
“Bella!! Kecilin suara musiknya dong!! Ayah kan lagi sakit! Sudah pulang
enggak salaman dulu sama ayah, sekarang kamu malah buat kegaduhan!”,
bentak Ganis.
"Dia itu bukan ayah kita, kak! Lagi
pula, dia aja enggak protes, kok malah kakak sich yang protes!?”, sahut
Bella melawan bentakan Ganis.
"Kakak tahu! Dia memang bukan ayah kandung kita, tapi dia sudah lama
tinggal sama kita dan berusaha untuk menjadi ayah tiri yang baik. Jadi,
kamu harus menghormati dia juga dong Bel!!", kata Ganis menasehati
adiknya.
"Ayah kamu lagi sakit, Bel? Pantasan, tadi dia enggak ngajar matematika.
Kok, kamu enggak bilang sich Bel?! Kita jenguk ayah kamu aja yuk!?",
sela seorang teman Bella.
"Jenguk aja sendiri!!", tolak Bella langsung mengusir teman-temannya dan mengunci rapat pintu kamarnya.
"Bella!! Kamu kok gitu sich!? Jangan egois dong!!", tambah teman Bella yang lainnya.
"Biarin aja! Udah sana, kalian jenguk aja tuh guru kesayangan kalian! Aku mau sendirian aja di kamar!!", bentak Bella.
Tak terdengar balasan dari balik pintu kamar Bella yang terkunci. Ganis
beserta teman-teman Bella pun berjalan menuju kamar ayah tanpa
mempedulikan Bella.
Pukul 20.00 WIB, waktunya makan malam bersama di rumah Bella. Namun,
Bella enggan keluar dari kamarnya. Sudang dipanggil berkali-kali, ia
tetap saja mengurung diri di kamarnya. Ini memang sudah menjadi kejadian
yang lumrah di rumah Bella. Semenjak ayah kandungnya meninggal
meninggal dunia dan digantikan oleh ayah tirinya dua tahun yang lalu,
sikap dan sifat Bella menjadi berubah. Ia tak mau mengganggap ayah
tirinya sebagai ayah, apalagi untuk memanggil "Ayah", terasa ada sesuatu
yang mengganjal di tenggorokannya. Padahal, ayah tirinya bukan monster
seperti yang ada di televisi-televisi. Ayah tirinya termasuk orang yang
baik dan sabar dalam menghadapi tingkah laku Bella.
"Kok, enggak dimakan Yah?”, tanya Ganis yang mendapati ayahnya sedang termenung meratapi makanan yang ada di piring.
"Ayah mau nunggu Bella, Nis", jawab ayah dengan suara parau. “Bella
enggak akan keluar Yah! Udah, ayah makan duluan aja ya?! Nanti, kalau
dia udah mulai kelaparan juga keluar sendiri”.
“Iya, ayah makan aja duluan. Biar cepat sembuh. Nanti, makanan Bella biar bunda yang antar ke kamarnya”, tambah bunda.
Mereka pun melahap santapan makan malam tanpa kehadiran Bella. Seusai makan malam, bunda mengantar makanan ke kamar Bella.
“Bella . . . ini bunda antarkan makan malam kamu. Kamu pasti sudah
laparkan?”. Tak terdengar sedikit jawabanpun dari mulut Bella.
Aku ambil makanannya enggak ya??
Malas akh!! Nanti aku ambil sendiri aja di ruang makan. Pokoknya, kalau
aku lagi marah, enggak boleh tanggung-tanggung, harus seharian. Kalau
perlu sampai besok! Biar om-om itu nyadar, kalau kehadirannya di sini
cuma ngerepotin keluarga aku.
“Bella!?”, seru bunda.
“Aku udah kenyang bun! Aku enggak mau makan!”.
“Ya sudah”, sahut bunda singkat.
Sekitar tengah malam, perut Bella mulai keroncongan. Bella pun
mengendap-endap keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan. Dibukanya
tudung saji yang tertutup rapi, namun hanya terdapat nasi dan telur
dadar.
“Lauknya kok cuma telur dadar sich?
Bunda enggak masak atau lauk yang lainnya udah pada habis . . .?!”,
tanya Bella pada dirinya sendiri.
“Kamu lapar juga, Bel!?”, kaget bunda dari belakang. “Udah enggak!!
Habis, lauknya cuma telur dadar sich!!”. “Bunda tadi enggak sempat
masak, Bel. Soalnya, bunda harus jagain ayah kamu. Tadi, suhu tubuhnya
tinggi lagi. Lagi pula, uang bunda sudah tinggal sedikit”, ujar bunda.
“Dia lagi-dia lagi!! Heran ya, kok pada
ngebelain dia semua sich?! Dipelet kali ya!!?? Lagian, sakit-sakitan
terus sich!! Jadinya ngabisin uang bunda dech! Kalau jadi guru honorer
tuh, harus rajin ngajar! Jangan tiduran mulu!!”, ejek Bella.
“Bella!! Kalau ngomong tuh dipikir-pikir dulu ya!? Jangan asal nyeplos aja!!”, bentak bunda.
Bella pun berlari meninggalkan bundanya menuju kamar dan membanting
pintu kamarnya dengan sekuat tenaga. Bunda sudah tidak tahu harus
bagaimana lagi menasehati putri bungsunya itu. Seisi rumahpun terkejut
mendengarnya. Ganis langsung keluar dari kamar dan menghampiri bunda.
Bunda menangis dalam dekapan Ganis.
“Udah, bunda jangan nagis lagi ya . . . ?! Bunda kan tahu sendiri
bagaimana sikap Bella sekarang ini. Dia udah enggak seramah dulu lagi.
Berubah drastis bun . . .”, kata Ganis.
Bunda melepas dekapan itu. “Ya sudah, bunda mau mengecek kondisi ayah kamu lagi ya . . .?!”.
"Iya"
Kemudian, bunda dan Ganis pun kembali ke kamarnya masing-masing.
“Bella marah-marah lagi ya, Bun? Pasti gara-gara ayah. Saya memang bukan
ayah yang baik buat Bella. Saya sudah merepotkan kamu. Besok, saya akan
mengajar lagi. Saya tidak mau kalau gaji kamu habis untuk membeli obat
saya”, kata ayah dengan suara pelan.
“Ayah enggak boleh bilang kayak gitu.
Lebih baik ayah istirahat dulu, mengajarnya cuti saja”. “Besok saya
tetap akan mengajar”, kata ayah mantap.
Tiga hari sudah, ayah tidak mengajar matematika di SMU di mana Bella
bersekolah. Setelah kejadian semalam, ayah pun memaksakan diri untuk
pergi mengajar, walau kondisi kesehatannya belum pulih benar, saat
mengajar di kelas Bella, Bella menunjukkan paras yang tidak senang atas
kehadiran ayah tirinya itu. Bella memang tak pernah memperhatikan
ayahnya ketika menjelaskan pelajaran. Sepulang sekolah, Bella mencoba
menyetir mobil milik temannya di jalan yang cukup sepi. Kerena belum
terbiasa menyetir mobil, pandangan mata Bella kurang fokus ke depan.
Tiba-tiba ada seorang bapak sedang melintas menggunakan sepeda motor
butut. Bella yang menyetir sambil berbicang-bincang dengan
teman-temannya itu, tiba-tiba hilang kendali dan akhirnya,
PLASH..... sepeda motor itu ditabraknya. Bella dan teman-teman pun
keluar dari dalam mobil. Mulut Bella bagai gawang yang kebobolan bola.
Ia terkejut, ternyata orang yang ditabraknya tak lain adalah ayah
tirinya sendiri. Bella panik bukan main dan langsung melarikan diri.
"Bella!! Dia ayah kamu! Kamu harus bawa dia ke rumah sakit, Bel!!”, teriak salah seorang teman Bella.
“Aku takut!! Nanti kalau aku ditangkap polisi gimana?!”.
“Bel, kamu harus tanggung jawab dong! Dia itu ayah kamu, Bel!! Kamu
enggak akan ditangkap polisi kalau kamu bawa dia ke rumah sakit!”.
“Dia bukan ayah aku!! Aku enggak mau bawa dia ke rumah sakit!”, tolak Bella.
“Dia emang bukan ayah kandung kamu! Tapi dia tetap ayah yang harus kamu
sayangi, Bel . . . Dia mungkin juga bukan ayah yang terbaik bagi kamu,
pti dia udah berusaha untuk menjadi yang terbaik buat kamu dan keluarga
kamu! Kami ngeliat ketulusan dari mata dia kok, Bel! Kalau beliau itu
sayang sama kamu. Dia ayah kamu! Dan dia juga guru kita! Kalau dia
enggak tertolong lagi, kita enggak bisa ngerasain enaknya belajar
matematika lagi, Bel! Sadar dong Bel!!”, nasehat temannya.
Mendengar nasehat temannya itu, hati Bella luluh. Di lubuk hatinya yang
terdalam, di memori pikirannya yang jauh, Bella memikirkan kebaikan ayah
tirinya itu. Dari kesabarannya, kebaikannya, keikhlasannya, dan
ketabahannya dalam menghadapi Bella. Dengan cpat, Bella dan
teman-temannya membawa ayah ke rumah sakit terdekat. Bella langsung
menghubungi bunda dan kakaknya. Bunda, Bella, Ganis, dan teman-teman
Bella khawatir dengan keadaan pasien itu. Dokter pun langsung menangani
ayah dengan serius. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dari ruangan
untuk memberitahu keadaan ayah. Dan ayah pun sudah tersadar. Mereka
semua masuk ke dalam ruangan untuk menjenguk ayah. Bella berlari dan
memeluk hangat tubuh ringkih ayahnya seraya meneteskan air mata yang
sempat tertahan di bola mata indahnya.
“Maafin Bella ya, Yah!? Bella enggak sengaja nabrak ayah”, jujur Bella.
Bellla yang awalnya tidak mau bercerita dengan keluarganya, akhirnya
menceritakan kejadian yang sebenarnya. Awalnya, bunda ingin mengusir
Bella, namun ayah mencegahnya.
“Bel, ayah senang . . . kamu sudah bisa panggil saya ayah. Ayah ikhlas
ditabrak kamu, asalkan akhirnya kamu bisa menerima dan panggil saya
dengan sebutan ayah”. Sebegitu besarnya pengharapan ayah kepadaku!? Aku emang jahat banget ya!? kata Bella dalam lubuk hatinya.
“Ayah harus lekas sembuh, ya!? Biar bisa ngajar matematika lagi”.
“Iya, nak . . .”.
Bella seperti tak ingin lepas dari pelukan ayahnya itu,. Bunda dan Ganis
pun memeluk ayah dan Bella. Tak lama berpelukan, Bella pun melepaskan
diri dari dekapan keluarganya itu.
“Bella janji, Bella akan panggil ayah
sekarang dan sampai kapan pun juga. Aku udah lama enggak ngucapin kata
ayah. Aku kangen sama sosok seorang ayah. Maafin Bella ya, Yah!?”.
“Kamu enggak perlu minta maaf. Ayah sayang sama kalian. Ayah akan
berusaha untuk menjadi seorang ayah yang terbaik buat keluarga ini,
khususnya untuk kamu dan kakak kamu. Walau mungkin, ayah enggak akan
pernah bisa untuk menggantikan ayah kandung kalian”. Bella dan Ganis
menjabat erat tangan ayahnya.
“Bella sayang sama ayah. Maafin Bella, Yah!?”, ucap Bella sekali lagi.
“Kami juga sayang sama pak guru!! Hehehehehe . . .”, tambah teman-teman Bella.
Ayah dan bunda hanya tersenyum lega. Akhirnya, Bella tersadar juga,
bahwa betapa sabarnya sang ayah untuk menantinya menyambut ayah tirinya.
Sekarang dan seterusnya, Bella akan memanggil “ayah” kepada ayah
tirinya dan hidup bahagia bersama keluarganya. Wala memang, ayah itu
bukan ayah kandungnya.
“Sekali lagi, maafin Bella, Yah!?!”.
Labels: Sad Story
Mimpi Terindah Sebelum Mati
WRITTEN BY kucumcucum Friday, December 7, 2012 [
1 comments ]

Cerpen Maya Wulan
RAMADHANI, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu
kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih
dulu pergi darimu. "Mati muda," kataku datar. Dan kau selalu saja
mengunci mulutku dengan cara mencium bibirku. Memutus kata-kataku yang
menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus
berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi
kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada
lagi ciuman seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar
menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara
tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku,
sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya
sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.
Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya
saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa
dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata
rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa
yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua
tertiupkan ke alam ini.
NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan
renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang
sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum
tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring.
Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran
bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan
kini, aku bermimpi.
Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku
mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering.
Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu
yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak
melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah
tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?
Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. "Ayah
harus ke luar negeri," kata ibuku padaku suatu malam.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk bekerja," sahut ayahku. "Ayah janji tidak akan pergi
lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di
kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan
kembali di sini."
Aku memasang wajah tak percaya, "Ayah janji?"
Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku
mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.
Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi
ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas
mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayah. Aku mulai menangis dan
marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak
makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku,
Ramadhani. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang
lagi. "Ayah sudah terbang ke surga," katanya.
Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau
melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga
mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus
terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.
Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari
dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti
menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa
dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju
padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng
tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.
Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan
menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki
di sebelahku, "Apa ayahku ada di sana?"
"Benar," jawabnya.
"Di mana?"
"Di langit ke tujuh."
"Apa kita bisa ke sana?" tanyaku tak sabar.
"Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" sahutku semangat.
"Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak,
kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat."
"Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci
angka-angka!" aku berteriak.
"Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang."
"Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun."
"Percayalah, kau akan menyukainya."
"Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?"
"Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang."
"Benarkah?"
Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening
mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak
ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang
sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang
menjelma nada indah tersendiri bagiku.
"Apa kita bisa menghitung suara ini?" kataku menunjuk bunyi
jantungku.
"Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung
sesuatu yang kita sukai."
"Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?"
"Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati."
"Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?"
"Ya."
"Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?"
"Tentu saja."
"Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi," kataku pelan.
"Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya," jawab laki-laki itu.
"Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti
yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami."
"Bagaimana dengan temanmu, Ramadhani?"
Aku terhenyak. Ramadhani? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya
begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di
satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Ramadhani akan baik-baik
saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku
tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti
dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari
kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun
kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali
ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan
berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus
sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan
rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Ramadhani, kalau setelah ini aku harus pergi,
maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum
matiku. Kataku dalam hati.
AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca.
Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan
jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi
kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau
takkan percaya, Ramadhani, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.
Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Ramadhani, menciumi bibirku ketika aku
bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat
sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Ramadhani,
lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku
menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.
Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu
yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, "Hei, itu kau,
Ramadhani. Kau juga di sini?" tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama
kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku.
Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?
Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total
terengah-engah. Ini melelahkan, Ramadhani. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman
unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih
menarik daripada menghitung langit atau bintang.
Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari
tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat
membuatku tercekat.
Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya.
Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter
mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, "Aku akan merindukan
ciumanmu, Ramadhani." Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan
hanya terus menangis. ***
Sidoarjo-Yogyakarta, 2004-2005
Labels: Sad Story
Tolong jaga mata saya baik-baik
WRITTEN BY kucumcucum Friday, September 7, 2012 [
2 comments ]
Terjemahan:
Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena dia buta. Dia juga membenci semua orang, kecuali pria kekasih tercintanya. Dia selalu ada untuknya. Gadis itu mengatakan kalau seandainya dia bisa melihat, maka dia akan menikahi pria kekasihnya itu.
Suatu hari, seseorang mendonasikan sepasang matanya untuknya agar dia bisa melihat segalanya, termasuk kekasihya itu.
Kekasih prianya itu bertanya padanya,
"karena sekarang kau sudah bisa melihat, apakah sekarang engkau mau menikahiku?"
Gadis itu shock dan kaget karena kekasihnya itu ternyata juga buta, dan dia menolak untuk menikahinya.
Pria itu pun pergi dengan kesedihan yang sangat mendalam, dan beberapa waktu kemudian dia menuliskan surat untuk gadis itu.
"TOLONG JAGA MATA SAYA BAIK-BAIK....."
Beginilah manusia berubah ketika status mereka berubah. Hanya beberapa orang yang mengingat seperti apa hidupnya dahulu, dan siapa yang telah menemaninya pada saat-saat menderita.
Labels: Sad Story
Twin tears
By Awaliya Nur Ramadhana
Aku tak tahu apa salahku? Yang
jelas, kedua orangtuaku tak memperhatikanku dan slalu menyuruhku agar
dapat menyenangkan hati adikku. Yap, adikku sekaligus musuhku di rumah
ini.
“Na… Kamu ngapain, sih? Temani adikmu sana! Dia mau kamu temenin main.” Teriak mama yang sibuk dengan kebunnya.
Aku langsung menarik nafas panjang. Ah.. padahal aku mau istirahat dan
nonton sinetron kesayanganku hari ini. terpaksa aku menemani adikku yang
manja itu.
“Kak, aku mau minum susu,” perintahnya kepadaku dengan wajah memelas. Ia
sangat senang bermain denganku. Yah, walaupun aku tak sepenuhnya
menemaninya. Kadang aku tak menghiraukannya dan membiarkannya main
sendirian.
“Hah.. kamu bawel banget, sih?!” tak selang lama setelah kubicara,
handphone ku bunyi. Ternyata teman-temanku ngajak jalan bareng.
“Minta sama mama saja sana! Aku mau jalan sama temen aku!” ujarku langsung beranjak dari hadapannya.
Jalan-jalan memang hobiku. Sayang, waktuku untuk jalan-jalan selalu
dikuras habis oleh adikku hanya untuk menemaninya bermain permainan
konyol itu.
Aku bingung terhadap kedua orangtuaku yang tak mau menyekolahkannya ke
Playgroup atau sejenisnya. Alasannya, hanya karena adikku tidak mau
pisah sama aku. Dan terpaksa, aku sekolah di rumah bersama dengannya.
Kadang bahkan sering aku bosan belajar di rumah dengan hanya seorang
guru.
Aku tak tahu, kenapa mereka
begitu memperhatikan adikku dibanding aku. Mungkin karena adikku cacat.
Ia hanya mempunyai satu tangan . Dan perkiraanku, itu yang membuat
orangtuaku begitu peduli dengannya.
Aku menghabiskan waktu yang lama untuk perjalananku hari ini. aku dan
teman-temanku shopping di mall. Aku tak menghiraukan seberapa lama aku
menghabiskan uang dan waktuku. Karena ini kesempatanku untuk bebas dari
adikku.
“Luna… Kita ke salon, yuk!” Viza, temanku yang sangat mementingkan fashion itu selalu mencari ikesempatan untuk menguras uangku.
“Apa-apaan, sih, Za! Ini sudah malam. Kita harus pulang!!!” Perintah
Lifa. Satu-satunya temanku yang punya perasaan. Dia merupakan penasihat
diantara kami semua.
“Jangan dulu! Lebih baik kita ngisi perut. Aku sudah lapar!!” Satu lagi
orang yang tak memperhatikan temannya. Moy, orang yang paling gemuk
diantara kami. Ia hanya mementingkan perutnya.
“Udahlah! Mending kita jalan-jalan ke distro dulu.” Usulku yang sangat suka shopping.
“Ah, gak asyik semuanya!Udah, mending ke rumahku. Kita nonton film. Aku
baru beli film fantasi kemarin. Seru, lho!! Magicnya hebat, cuy!” Ini
dia, Xey. Satu-satunya cowok yang berteman dengan kami. Sangat suka sama
yang namanya magic. Dan sekarang dia sekolah sulap.
Memang kami semua mempunyai perbedaan yang sangat besar dan jauh. Namun,
kami sudah lama berteman. Sejak aku pindah rumah, aku jadi banyak
memperoleh teman di komplek tempat aku tinggal.
“Aku bilang, kita harus PULANG..!!! Ini sudah malam! Nanti orangtuaku kita nyariin.” Teriak Lifa kesal dengan kami.
“Ah, gak mungkin lah orangtuaku cariin aku.” Ujarku pasti. Tak selang
lama setelah aku mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba papa nelpon.
“Hallo, kenapa, Pa?”
“Kamu kemana aja?! Cepat pulang! Adikmu butuh kamu!” Aku langsung
menutup pembicaraan itu. Aku sudah menebak , jika mereka cariin aku ,
pasti karena adikku yang minta. Kenapa, sih, selalu aku yang disuruh?
“Kenapa, Lun?” tanya Lifa
“Gak. Biasalah, gak penting!” sahutku kecut.
“Oh, ya sudah! Kita pulang sekarang!” Perintah Lifa lagi.
“Gak, Lif! Aku gak mau..!” Bentakku.
“Kamu kenapa, sih?! Ya sudah, TERSERAH! Aku saja yang pulang.” Lifa
marah dan langsung pergi. Kami yang tersisa saling tatap. Akhirnya, kami
memutuskan untuk pergi sendiri-sendiri. Aku yang tidak mau pulang,
pergi ketempat yang semula kuinginkan, distro. Tak jauh dari mall itu,
tepatnya di seberang jalan, ada sebauh disto favoritku. Aku segera
menyeberang jalan raya yang ramai itu tanpa memperdulikan sekitarku.
Ketika ditengah jalan, tak sengaja tasku tersangkut di spion sepeda
motor seseorang. Aku berusaha melepaskannya. Tapi, sepeda motor itu
tetap berjalan. Dan, tepat di depanku, ada sebuah mobil yang melaju
cepat. BRUKKK…( deg..deg.. deg..)
Pandanganku masih remang-remang. Ternyata aku sudah ada di rumah sakit.
Aku di dorong menuju ruang UGD. Kulihat tubuhku berlumuran darah.
Sesampainya di ruang UGD, aku melihat seorang pasien perempuan di
sampingku. Ups, itu kan Leny, adikku. Apa aku tak salah lihat? Atau ini
efek dari benturan di kepalaku? … Adu-uh.. SAKIT
Ternyata aku pingsan lagi. Dan sekarang aku sudah berada di ruang inap.
Kulihat ayah dan ibuku sudah berada di sampingku. Mereka kelihatan
menangis. Apa mereka menangisiku? Apakah sekarang mereka
mengkhawatirkanku?
“Mah… Pah…” ucapku lemah.
“Luna….” Mamah masih menangis. Matanya kelihatan bengkak.
“Adikmu, Lun… Adikmu sedang kritis.” Ucapnya lagi.
Hah… Jadi mamah dan papah bukan menangisiku?! Tapi menangisi Leny!
“Kalian kenapa, sih?! Kenapa selalu Leny yang diperhatikan?! Kalian
tidak pernah mengkhawatirkanku. Apa aku bukan anak kalian?” Bentakku
sudah tidak dapat lagi menahan emosi yang supersulit itu.
“Astaghfirullah, Lun! Tidak seharusnya kau meremehkan adikmu! Dia patut
dikasihani. Apalagi KAU! Kau seharusnya menyayanginya. Karena dia
saudara kembarmu!” ujar mamah keras.
Aku langsung terkejut. Leny saudara kembarku?? Gak mungkin! Secara,
badanku lebih tinggi dan besar darinya. Selain itu, pikirannya masih
kayak anak TK. Padahal aku sudah SMP.
“Ketika kalian lahir, ternyata kalian kembar siam. Dan anggota tubuh
kalian bersatu. Mau-tak mua, kalian harus dioperasi untuk memisahkannya.
Ketika dioperasi, detak jantungmu melemah. Operasi pun dipercepat.
Gara-gara operasi itu, dokter memutuskan untuk memberikan tangan kiri
kalian yang cuma satu itu kepadamu. Leny pun harus rela jadi cacat.
Setelah kalian berumur 3 tahun, kami baru menyadari kalau pertumbuan
Leny lebih lambat dari kamu. Dan ternyata, Leny mengalami pertumbuhan
lambat itu Karena efek dari operasi itu.” Jelas papah tersedu-sedu.
“Leny rela tak mempunyai tangan hanya untuk menyelamatkanmu. Agar kamu
selamat dari operasi itu. dan akibatnya, pertumbuhannya jadi lambat!
Seharusnya, kamu berterima kasih dan menyayanginya.
Air mataku menetes. Hatiku terasa teriris-iris. Aku sangat menyesal. Ya
Tuhan! Ternyata Leny saudara kembarku. Leny, maafkan aku! Mengapa selama
ini, aku tak merasakan ikatan batin seperti yang dirasakan saudara
kembar lainnya. Apakah hatiku ini terlalu keras? Aku harus menebus
kesalahanku pada Leny. Aku segera pergi menuju ruang inap Leny.
Setibanya di sana, apa yang kulihat? Detak jantung Leny semakin melemah.
Kata dokter, Leny harus segera mendapatkan donor ginjal. Tanpa menunggu
lama, aku segera bersedia menjadi pendonor. Aku ingin menebus
kesalahanku pada Leny, sebelum tak ada waktu untukku menebusnya.
Akhirnya, operasi pun dilakukan.
DEG….. DEG…. DEG…..
Tiba-tiba, aku sudah berada di sebuah tempat yang sangat terang. Hanya ada aku dan….Leny? Hah.. dimana kami?
“Kakak.. terima kasih, Ka!” ujar Leny tersenyum.
“Kamu… Leny?” Aku seolah tak percaya dengan semua ini.
“Iya, Ka. Aku Leny. Saudara kembar kakak.” Sahutnya.
“Di mana kita?”
“Kita berada di alam yang berbeda dengan mamah dan papah. Kak, terima kasih kakak telah mau menemaniku di sini.” Ucapnya.
“Apa?!! Maksudmu kita sudah meninggal?!” tanyaku gemetaran.
“Iya, Kak”
Aku diam tanpa kata. Hanya hatiku yang berkata. Akhirnya aku bisa
menebus kesalahanku dengan menemaninya di sini. Yang tersisa hanyalah
airmata Mamah dan Papah di alam sana.
Kami lahir bersama. Bahkan, kami pergi dari dunia ini pun bersama.
PROFIL PENULIS
Hay.. Salam Kenal..
Namaku Awaliya Nur Ramadhana.
Kalau mau Tahu aku kunjungi
http://ramadhan-liya.blogspot.com
thanks to
Labels: Sad Story
Jagalah dia untukku
Cerpen Hanin Fathimah Sholihah (Hanin Adzkiya November)
Hari ini aku sangat senang, aku
habis jalan-jalan dengan Deni, orang yang aku sayangi. Hari-hariku
terasa bahagia dengan kehadirannya. Oh ya... aku adalah Nada, aku
mempunyai saudara kembar bernama Nida. Wajah kami tidak begitu mirip,
karena kami tidak kembar identik. Aku dan Nida tak dapat terpisahkan,
dari kecil kami selalu bersama-sama, pakaian kami selalu sama. Orang
tuaku tidak pernah pilih kasih pada kami, tidak membeda-bedakan kami
berdua. Aku termasuk orang yang aktif dan ceria, sedangkan kembaranku
lebih pendiam.
***
Akhir-akhir ini aku sering merasakan sakit di kepalaku. Seperti hari
ini, saat aku sedang menjelaskan di depan kelas, kepalaku sangat sakit,
tiba-tiba pandanganku buram dan gubrak.... aku pingsan. Teman-teman dan
guruku terkejut dan langsung membawaku ke UKS.
Saat aku sadar, Deni dan Nida sudah ada di sampingku.
“syukurlah, kamu sudah sadar” kata Deni.
“aku dimana? Kenapa aku disini?” aku bangkit sambil memegangi kepalaku yang masih sedikit sakit.
“tadi kamu pingsan Nad” kata Deni.
“iya Nad, tadi kamu pingsan saat menjelaskan di depan kelas” Nida menambahkan.
“aku ingat tadi aku menjelaskan di depan kelas, tapi aku tidak ingat lagi setelah itu”
“ya sudah, sekarang kamu istirahat saja” kata Deni.
“iya, Nad” Nisa menambahkan.
***
Karena akhir-akhir ini kepalaku sering sakit, aku memutuskan untuk
memeriksakannya ke rumah sakit. Tapi aku tidak memberitahu Nida apalagi
orang tuaku. Aku takut mereka mengkhawatirkanku.
“silakan duduk, nak Nada”
“terimakasih dok. Bagaimana hasilnya? Saya baik-baik saja bukan?”
“sebentar” dokter mengamati hasil pemeriksaanku.
“maaf nak Nada sepertinya saya harus memberitahukan ini langsung pada orang tua anda, karena ini sangat serius”
“memangnya kenapa dok? Sampaikan saja pada saya, nanti akan saya sampaikan pada orang tua saya”
“baiklah” dokter menghela napas. “nak Nada anda harus tabah, anda terserang penyakit kanker otak stadium akhir” jelas dokter.
Aku sangat terkejut mendengar penjelasan dokter. Seluruh badanku lemas. Aku belum bisa berkata-kata.
“penyakit ini sangat sukar untuk di sembuhkan, apalagi sudah stadium akhir”
“bagaimana dengan saya dokter?”
“saya hanya bisa memberikan obat untuk memperlambat perkembangan kanker itu, selebihnya kita serahkan pada Tuhan”
Aku menitikkan air mata. Kenyataan ini seperti mimpi.
***
Sekarang aku sering menyendiri dan diam. Ceriaku hilang setelah aku tahu
kenyataan ini. Tentu orang yang pertama kali menyadari perubahanku
adalah Nida.
“kamu kenapa Nad? Kok jadi diam begini.”
“aku nggak papa kok, cuman gak bersemangat aja”
“bener?”
“iya Nid, kamu tenang aja”
Hampir semua orang bertanya mengapa aku berubah. Mereka heran tidak ada
lagi Nada yang ceria, sekarang menjadi Nada yang pendiam. Nida, orang
tuaku, Deni dan semua teman-temanku mulai menyadari perubahanku ini.
Saat mereka menanyakan hal ini padaku, aku hanya mencari-cari alasan
yang masuk akal. Aku tahu, aku telah membohongi mereka semua. Maafkan
aku. Aku tahu lambat laun mereka mengetahui penyakitku ini. Tapi
sekarang aku belum siap memberitahu mereka, biarlah aku menanggung
penyakitku sendiri.
***
Sudah dua bulan aku menyembunyikan penyakitku ini. Aku semakin tersiksa.
Aku semakin sering pusing, mimisan, dan pingsan. Orang-orang di
sekitarku semakin mencurigaiku, tapi aku masih bisa menyimpan dengan
rapat hal ini dari mereka. Sampai suatu saat mama ke kamarku dan ia
melihatku sudah tergeletak di lantai dan darah keluar ari hidungku.
Orang tuaku segera membawaku ke rumah sakit terdekat. Aku tek sadarkan
diri beberapa hari. Dan saat aku dibawa ke rumah sakit, orang tuaku
bertanya tentang keadaanku pada dokter.
“sebenarnya ada apa dok dengan anak saya?” tanya papa.
“iya dok, mengapa seringkali Nada pingsan dan mimisan?” tambah mama.
“maafkan saya bu, saya baru bisa memberitahu bapak dan ibu sekarang” aku
memang meminta dokter untuk merahasiakan ini dari siapapun.
“Nada mengidap penyakit kanker otak stadium akhir”
Mamaku langsung menangis nendengar penjelasan dokter. Ia tidak percaya.
Papa berusaha tabah. “bagaimana keadaannya sekarang?”
“kanker otak itu semakin berkembang dan saya tidak bisa berbuat apa-apa
lagi. Kita hanya bisa berdo’a dan menyerahkan semuanya pada Tuhan saat
ini”
Orang tuaku terdiam.
***
Sudah tiga hari aku tak sadarkan diri. Dan selama itu pula Nida dan
orang tuaku selalu menemaniku. Juga Deni. Walaupun aku tak sadarkan diri
tapi seolah-olah aku dapat mendengar suara orang-orang yang
menyayangiku.
“mengapa kamu tidak memberitahukan ini padaku, Nad? Kasihan kamu, harus
menanggung penyakit ini seorang diri” suara Nida terdengar. Ia
menggenggam tanganku.
Setalah mendengar suara Nida, aku membuka mataku. Mereka sangat senang melihatku telah sadar.
“kamu sudah sadar, Nad. Kamu sudah tiga hari tak sadarkan diri” kata Nida.
Aku tersenyum dan berkata “umurku tidak lama lagi Nid, aku titipkan Deni
padamu. Jaga dia baik-baik dan kamu Deni aku mohon sayangilah Nida
seperti kau menyayangiku, jagalah dia demi aku” ku satukan tangan
mereka. Deni tersenyum padaku.
“tapi Nad?” ucap Nida.
“sudahlah Nida, aku mohon penuhilah permintaan terakhirku ini. Aku tahu
kau menyukainya. Aku ingin kau bahagia” aku memberikan senyum
terakhirku.
Dan terdengarlah suara alat di sampingku, menandakan aku telah tiada. Senyumku mengantarkanku pergi dari dunia ini.
“Nadaaa....” teriak Nida.
--T.A.M.A.T--
Labels: Sad Story
Meja di Sudut Ruangan yang Aku Suka
By: Cucuk Espe
Ini benar-benar bulan Desember. Hujan dimana-mana. Jalanan basah. Langit
hitam menggantung sepanjang hari. Dan angin bertiup terlalu kencang.
Dingin menusuk tulang. Musim penghujan tahun ini datang terlambat,
mungkin akan lama. Untung saja, kotaku yang kecil bukan termasuk wilayah
langganan banjir. Bukan karena disiplin penghuninya, tetapi rasio
penduduk dan luas wilayah sangat tidak sebanding. Membuat iri mereka
yang tinggal di kota besar yang padat dan sumpek. Kotaku kecil sehingga
tidak memerlukan kerja ekstra untuk mengurusnya.
Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan, dilahirkan dan dibesarkan di
kota itu. Apalagi setiap musim penghujan, aku paling suka melihat
jalanan kotaku basah. Dedaunan di sepanjang jalan terlihat mengkilat
pada sore hari. Terpaan lampu kota membuat deretan pohon di sepanjang
jalan layaknya pagar besi berkilau. Aku suka itu!
Sore ini, angin bertiup terlalu kencang. Hujan sejak pukul 12 siang tadi
belum juga berhenti, meski kini tinggal gerimis. Dari balik jendela
sebuah caffe shop di pinggir kotaku,, aku duduk menikmati gerimis itu.
Gerimis yang telah lama tidak aku temukan hampir sepanjang tahun ini.
Sekaligus gerimis yang selalu membuka beragam cerita yang menumpuk di
sudut batinku. Aku duduk di situ ditemani segelas cappucino sambil
menghisap rokok, pelan dan dalam. Mestinya aku merasa damai berada di
situ, nyaman dan melonggarkan pikiran.
Tetapi sore itu tidak!
Aku memang selalu datang ke tepat itu setiap sore sehabis mengirimkan
tulisan ke media yang bisa memuat esai-esai ‘kacau’-ku. Melepas penat
dan mungkin akan menemukan ide baru untuk bahan tulisan keesokan
harinya. Terlalu sering aku di situ. Hingga hampir seluruh pelayan
mengenalku. Keuntungannya, setiap aku masuk tanpa ditanya menu, langsung
dipersilahkan duduk di meja dekat jendela yang terletak di sudut
ruangan. Tempat yang aku suka!
Anehnya, sore itu aku menemukan diriku tidak biasanya. Perasaan ini
semakin aneh manakala melihat kaca jendela kusam dan buram. Kuusap
dengan tangan, terlihat beberapa anak bermain air di pinggir jalan. Anak
jalanan! Meski kotaku kecil, namanya anak jalanan tetap saja ada. Tentu
saja dengan tingkat kerumitan permasalahan yang berbeda. Anak jalanan
di kotaku masih memiliki rumah dan orang tua. Hanya saja orang tua
mereka tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga anak-anak mereka tidak
terurus. Berbeda dengan di kota besar yang ‘tuna’ segala-galanya. Bahkan
orang tua saja mereka bingung menentukan siapa dan dimana.
Aku tersenyum melihat tingkah mereka yang polos. Bermain air, saling
menendang, memukul, berputar, berlari, tanpa beban. Suasana tawa dalam
guyuran gerimis di luar terasa ringan. Seringan kapas! Berbeda dengan
suasana nyaman di sini, di sudut ruangan yang cozzy –kata anak-anak
muda—tetapi terasa berat, seberat awan hitam yang menggantung. Nyaris
jatuh.
“Sedang menunggu seseorang?” suara perempuan mengoyak lamunanku.
Perempuan muda dengan senyum enteng kutemukan telah duduk tepat di
depanku. Sejak aku mengenal dan menjadikan coffe ini tempat favorit
untuk meliarkan khayalan, baru sore itu ada perempuan datang dan duduk
tanpa aku minta. Aku agak gelagapan.
“Tidak juga. Kamu…,” aku belum menemukan pertanyaan yang sesuai untuk
sebuah ketiba-tibaan. Aku panggil ‘kamu’ karena aku yakin usia perempuan
ini jauh di bawahku.
“Maaf, jika mengganggu,” celetuknya.
“Tidak juga,” terpaksa aku mengulang kalimatku. “Terima kasih telah mamu duduk di meja ini.”
Ya! Aku formal banget. Perempuan itu tersenyum. Mungkin menertawai
sikapku yang diluar perkiraannya. Aku bisa menebak, dipikirnya aku akan
langsung menyodorkan senyum menggoda dan bergerak sangat agresif. Jujur,
aku memang sering seperti itu tetapi bukan untuk sebuah ketiba-tibaan
yang menghilangkan segala kecerdasanku. Benar! Aku terasa seperti lelaki
lugu.
Perempuan itu membetulkan posisi duduknya.
“Aku baru dua kali kesini. Pertama tiga hari lalu, dan duduk di meja
ini,” katanya. Aku mengingat tiga hari yang lalu, memang aku tidak ngopi
di sini. Aku ke rumah teman di luar kota. “Dan sore ini, ternyata
tempat ini enak juga ya…,” lanjutnya.
“Aku sering ke sini,” jawabku seolah menyiratkan di meja inilah tempatku!
“O…ya?”
“Hampir setiap sore. Dan duduk di sini.”
“Selalu di sini?” tanya perempuan itu lagi.
“Ini tempat yang terlindung,” jawabku sambil melirik ke pot-pot bunga
yang berjejer mengelilingi sudut ruangan tempat favoritku. “Tidak
terlihat tetapi bisa melihat siapa saja yag masuk.”
“Pilihan tepat. Lalu kenapa tadi aku mengejutkanmu?”
Sialan! Rupanya dia tahu kalau aku tadi sangat terkejut melihat kedatangannya.
“Lihat anak-anak itu! Mereka membuatku tidak menyadari ada seseorang
telah berada di depanku,” jawabku sekenanya. Perempuan itu tersenyum.
Giginya terlihat sangat terawat.
“Maaf, kita belum kenalan, Oka…” kusodorkan tangan. Dia menyambut tanpa ragu.
“Jenny.”
“Baru di kota ini?”
“Betul. Aku tinggal bersama saudara sepupu di ujung jalan ini,” jawabnya.
Setelah berkenalan itulah, pembicaraanku dan Jenny berlangsung lancar.
Bahkan kini terlihat bakat asliku; agresif dan suka memutar balik logika
kalimat lawan bicara. Tak terasa hampir dua jam, aku dan Jenny terlibat
pembicaraan tanpa arah. Ringan tetapi aku tahu, Jenny sangat suka.
Bahkan dengan gayanya yang khas Jenny menceritakan kondisi keluarganya
di Jakarta yang berantakan. Ayahnya harus balik ke Singapura sedangkan
ibunya tetap tinggal di Jakarta, serumah dengan pria selingkuhannya. Aku
menghela napas panjang dan dalam. Dari dulu, peroblematika hidup kota
besar tak jauh bergeser. Cinta, uang, pengkhianatan….klise! Bentakku
dalam hati.
Hujan di luar sedikit mereda. Tetapi jalanan mulai gelap. Temaram lampu
kota, sekuat tenaga menembus dinginnya udara basah. Kulihat Jenny
semakin menikmati suasana, seolah ingin melepaskan beban yang puluhan
tahun menimbun kebebasannya.
“Apa tidak terlalu malam?” kataku mengingatkan.
“Aku masih suka di sini. Oka keberatan?”
Aku menggeleng.
Akhirnya aku melanjutkan pertemuan itu hingga larut malam. Jenny memang
luar biasa dengan segala permasalahan hidupnya. Diceritakan dengan
detail, mungkin tanpa tertinggal secuilpun. Aku menikmatinya. Keliaran
pikiranku menangkap cerita Jenny dengan penuh semangat. Ini ide hebat!
Pikirku.
Hingga pagi. Tetapi tidak di coffe itu lagi. Kutemukan tubuhku, lunglai
dalam pelukan Jenny. Malam yang penuh gerimis telah membuka segala
cerita, menimbun segala duka. Ini sisi kreatifku yang terkadang muncul
tanpa kusadari. Maaf…
* * *
Kubatalkan semua rencana yang telah kususun rapi sejak semalam. Ke rumah
teman, lantas mampir ke perpustakaan kota, dan ngopi di tempat biasa.
Semangatku mendadak terbang menyelinap di sela mendung yang membekap
matahari pagi. Kini, gelapnya langit benar-benar membunuh ketenangannku.
Lantas mengumbar kecemasan yang sangat hebat. Aku tidak tahu harus
melakukan apa untuk menyingkirkan kenyataan mengerikan akan mengusik
kenyamanan pagiku. Mungkin juga kenyamanan seluruh usia hidupku.
Kubaca koran pagi; Jenny bunuh diri!
Seorang perempuan, tengah malam, ditemukan tewas tergeletak di pinggir
rel kereta dekat gerbang masuk kota. Diduga, perempuan itu menabrakkan
diri ke kereta barang yang melintas dengan kecepatan tinggi. Polisi
berhasil menemukan indentitas dalam tasnya, korban bernama Jenny, 27
tahun, warga Jakarta yang baru beberapa hari tinggal di kota ini…Kulipat
koran itu, napasku seolah berhenti sesaat. Tetapi jantungku berdegub
jauh lebih kencang. Itu perempuan yang bersamaku kemarin malam!
Aku membaca berita singkat itu sekali lagi. Sama. Aku yakin itu Jenny!
Tetapi kenapa dia melakukan hal bodoh itu? Kuhisap rokok sekedar
menenangkan pikiran. Tetapu justru malah blingsatan dan menyiksa. Entah
apa yang sedang terjadi dalam pikiranku, aku tidak tahu. Sedih. Takut.
Bersalah. Semua jadi satu! Apalagi ketika paragraf terakhir berita itu
kubaca; hasil visum tim dokter menyatakan kalau korban sedang hamil dua
bulan. Keringat dingin meluncur tak tertahankan lagi.
Apa karena kehamilannya itu membuat Jenny nekad? Berpuluh ingatan
singkat tentang Jenny memenuhi pikiranku. Aku terduduk. Lemas. Kurasakan
angin dingin menyelinap menggerakkan dedaunan di luar dan menelusup
melalui celah jendela. Kemarin malam, seolah tanpa beban, Jenny
menjelaskan sebagian peristiwa hidupnya.
“Kau tidak menyesal?” tanyaku.
“Lama sekali aku tidak mengenal perasaan itu.”
“Kenapa?”
“Kedua orang tuaku, seolah mengajarkan jika penyesalan adalah bentuk
pengingkaran,” Jenny menerawang kosong. Aku yakin, ada beban teramat
berat menggunung dalam batinnya.
“Rupanya ada bagian masa lalu yang menyakitkan?”
“Bukan sebagian hampir seluruhnya. Semua peristiwa terjadi pada diri
kita seolah diluar rencana baik yang kita susun. Aku tidak memiliki
kekuatan untuk menghentikan rangkaian peristiwa itu. Jadi, suka atau
tidak, harus dijalani,” jelas Jenny sangat dalam.
“Meski peristiwa itu akibat ulah kita sendiri?”
“Hanya persoalan cara pandang saja,” tukasnya pendek.
Selanjutnya, tanpa beban secuilpun menganggu perasaannya, Jenny
menceritakan pertengkaran kedua orang tuanya pada suatu malam.
Pertengkaran yang hebat! Ketika itu, Jenny tidak mengerti pangkal
permasalahan sebenarnya. Yang dia lihat, ayahnya menampar ibunya. Ibu
lebih berani lagi, membantah dan melontarkan kalimat kasar. Bukan
layaknya suami-istri. Jenny menangis menyaksikan semuanya dari balik
jendela. Sejak itu, ayahnya jarang pulang sedangkan dia sendiri pergi
menumpang rumah teman, agak jauh dari rumahnya.
Terakhir, Jenny mendapat kabar, kalau ayahnya telah pulang ke negara
asalnya, Singapura. Sedangkan ibunya pergi bersama lelaki
selingkuhannya. Jenny sendiri…merasa menemukan jalan hidupnya danm
menikmatinya seolah ingin membunuh peristiwa menyakitkan yang merubah
jalan hidup normalnya itu.
“Dan aku hamil,” kata Jenny pelan. Aku tak tahu harus bersikap apa.
Kalimat itu seakan ditujukan kepadaku dan menanti agar aku mampu
mengurai beban hidupnya. Aku tahu, apapun alasannya, ini adalah
kesalahan yang mesti diperbaiki. Tetapi bagaimana caranya? Ternyata
dibalik keceriaan Jenny ketika awal berkenalan, tersimpan peristiwa
cukup berat. Senyumnya mungkin untuk membunuh siksaan beban itu.
Aku tangkap tangan Jenny. Tiba-tiba kami menjadi sangat akrab.
“Itu alasannya hingga kamu meninggalkan Jakarta?”
“Kota itu terlalu menyiksa,” celetuknya pelan.
“Berarti akan lama tinggal di kota ini?”
“Belum tahu juga. Aku juga nggak enak dengan sepupuku.”
Begitulah, malam terus merambat hingga larut membawa pagi. Aku lebur
dalam duka Jenny yang mungkin tidak akan tersembuhkan. Aku sadar,
kehadiranku hanya akan melupakan bebannya sesaat. Tidak akan lama!
Tetapi pertemuan singkat itu, terasa begitu bermakna. Apalagi ketika
matahari menyelinap melalui lubang jendela, mengusik tidurku. Kelelahan.
Dan pagi ini…
Kutemukan tubuh yang penuh duka itu, kini penuh luka. Kuambil rokok,
entah batang yang keberapa. Asbakpun telah penuh. Namun batinku tetap
saja blingsatan. Pagi ini benar-benar hancur. Seperti kalimat Jenny
kemarin malam, penyesalan hanyalah wujud pengingkaran. Memang semua
garis peristiwa hidup harus dijalani tanpa protes sedikitpun. Karena
manusia memang tidak layak untuk protes. Dan mungkin saja –aku ragu
menggunakan kata ‘mungkin’—Jenny telah melanjutkan garis peristiwa
kehidupannya. Tanpa menyesal sedikitpun!
Kulirik koran yang terlipat di meja. Terlihat foto tubuh Jenny,
terbungkus kantung warna merah. Dan…dia hamil! Aku tersentak. Nyaris
tersedak. Berdiri. Dan melihat ke arah jendela, menerawang kosong.
Berpuluh kenangan menjejal dalam pikiran. Ketakutanku pun memuncak.
Jenny memang telah meninggal, tetapi bayi itu? Orok yang dikandungnya?
Bisa jadi –meski terlalu dekat jaraknya—aku juga memiliki anak itu.
Karena semalaman…Jenny!
Aku berteriak sendiri. Tanpa mampu menemukan solusi sedikitpun.
* * *
Kulihat dari balik jendela yang kusam, gerimis semakin lebat. Secangkir
kopi nyaris habis. Empat puntung rokok tersuruk dalam asbak. Pada meja
di sudut ruangan itu, aku duduk sendiri. Seperti hari-hari sebelumnya.
Tetapi sejak peristiwa itu terjadi, kini aku memiliki alasan lain untuk
duduk di meja itu. Terasa gelas cappucino milik Jenny belum kering.
Perempuan itu seolah terus mengajakku untuk selalu menemuinya di caffe
itu. Kunikmati pertemuan batin yang melegakan itu. Tanpa penyesalan.
Yang lebih penting, aku selalu duduk pada meja di sudut ruangan itu
untuk menziarai anak batinku dalam kandungan Jenny. Hal itu harus
kulakukan sebagai wujud penyesalan. Maaf…Jenny. Anak itu terlalu suci
untuk menanggung beban garis hidup orang tuanya. Aku pesan kopi lagi.
Gerimis bertambah lebat.**
-----------------------------------------------
Labels: Sad Story